AgroBio Volume 1 Nomor 1 Tahun 1996_1

BULETIN AgroBio
Volume
1 Nomor 1 Tahun 1996

 

Jamur Patogen Serangga:
Potensi, Kendala, dan Strategi Pengembangannya
sebagai Agen Pengendali Biologi Werengbatang Coklat

(T. P. Priyatno dan M. K. Kardin)

Kelompok Peneliti Diagnostik dan Pengendalian Biologi, Balai Penelitian Bioteknologi Tanaman Pangan

ABSTRACT

Priyatno, T. P. dan M. K. Kardin. 1996. Entomopathogenic fungi: Potency, Problem, and It's Developtment Strategy as Biocontrol Agents for Brown Planthopper. Brown planthopper (BPH) is one of the important insect pests in Indonesia. Various control measures such as synchronized planting, resistant varieties, and pesticide application have been recommended, however, outbreak and losses due to the development of new biotypes has not been controlled satisfactorily. In addition, buprofezin, the only recommended insecticide to control the BPH has been suggested to be toxic to shrimp culture. Therefore, alternatives control measures of BPH are needeed. Fungal pathogen of insect is one of the BPH natural enemies that has been suggested as one of the alternatives to control the BPH. Prelimenary researches on this subject have been conducted, but further studies to asses the effectivenes under field conditions and the compatibility with other control measure have to be varified. The lack of experience and expertise in basic techniques for exploiting fungal pathogens of insect as a biocontrol agent of the BPH is still a bottle neck in developing a new and effective microbe pesticide to control the BPH. A holistic approach based on a good understanding on biology of potential natural enemies is very importan for developing new and effective microbe pesticides.

Keywords: Entomopathogenic fungi, development strategy, brown planthopper.

Pada saat ini, sektor pertanian tanaman pangan dihadapkan pada keadaan makin terbatasnya sumberdaya, merosotnya kualitas sumberdaya alam, dan dampak negatif yang datangnya dari luar. Berdasarkan laju pertumbuhan penduduk, peningkatan konsumsi gizi masyarakat, dan konsumsi beras 137 kg/kapita/tahun, proyeksi kebutuhan beras tahun 2000 mencapai 29,5 juta ton (27). Dengan produksi beras 25,8 juta ton pada tahun 1993, maka produksi beras harus meningkat minimal 0,5 juta ton/tahun atau 2-3% per tahun.
Untuk mencapai target tersebut, berbagai kendala produksi harus diantisipasi secara dini. Hama merupakan salah satu kendala produksi yang harus diwaspadai. Ledakan berbagai jenis hama terjadi silih berganti dan tidak jarang diikuti oleh munculnya strain atau biotipe baru yang lebih ganas. Di antara hama-hama utama yang menyerang tanaman padi, werengbatang coklat (WBC) merupakan hama penting yang harus diwaspadai. Populasi WBC bisa meledak sewaktu-waktu bila kondisi lingkungan mendukung. Faktor-faktor yang menyebabkan WBC merupakan hama penting padi, antara lain, ialah (a) WBC merupakan vektor virus kerdil rumput dan kerdil hampa, dan (b) populasinya bersifat strategis.
Beberapa taktik pengendalian WBC yang telah dilakukan, antara lain menggunakan varietas tahan, memperbaiki pola tanam (tanam serentak dan pergiliran tanaman/ varietas), memanfaatkan musuh alami, dan aplikasi insektisida (27). Penggunaan varietas tahan sebenarnya merupakan cara pengendalian yang paling efektif dan efisien, tetapi karena daya adaptasi WBC sangat tinggi dan pola pergiliran varietas belum diterapkan oleh petani, perkembangan biotipe terjadi sangat cepat. Biotipe/koloni WBC baru yang mampu menyerang varietas IR64 (yang dianggap tahan pada saat ini) telah dilaporkan berkembang di Jawa Timur dan Jawa Tengah. Penggunaan insektisida yang menjadi alternatif terakhir, sekarang telah diragukan keamanannya. Buprofezin yang dulunya dianggap aman, kini telah diketahui beracun terhadap nener bandeng, mujair, dan udang windu (43). Konsentrasi buprofezin (dalam ppm) yang diperlukan untuk menimbulkan 50% kematian terhadap berbagai tingkat perkembangan udang windu adalah 5,37 (nauplius), 3,39 (zoea), 21,39 (mysis-3), 48,24 (pasca larva (PL)-20), dan 65,72 (PL-40). Konsentrasi tersebut lebih rendah daripada konsentrasi yang dianjurkan untuk mengendalikan WBC Pada konsentrasi di atas 100 ppm, buprofezin secara nyata menghambat proses pergantian kulit PL-40 udang windu. Oleh sebab itu, metode pengendalian yang efektif, efisien, dan aman harus dikembangkan.
Jamur patogen serangga (JPS) merupakan salah satu musuh alami yang potensial untuk dikembangkan sebagai agen pengendali biologi WBC. Walaupun penelitian dan pengembangannya sudah banyak dilakukan, aplikasinya masih terbatas. Efikasi hasil pengujian di lapang juga lebih rendah daripada di laboratorium atau rumah kaca. Hal ini karena pengembangan dan aplikasinya masih belum dilakukan secara holistik.
JPS merupakan organisme hidup yang mempunyai karakteristik kehidupan yang rumit. Aktivitasnya sangat dipengaruhi oleh berbagai faktor, baik faktor dalam maupun faktorluar(ll,37, 13,32,4).
Naskah ini berkenaan dengan potensi, kendala, dan strategi pengembangan dan aplikasi JPS untuk mengendalikan WBC.

Download artikel lengkap (PDF)



wso shell indoXploit shell wso shell hacklink hacklink satışı hacklink satış deface mirror wso shell