AgroBiogen Volume 2 Nomor 2 Oktober 2006_2

JURNAL AgroBiogen
Volume
2 Nomor 2 Oktober 2006

 

Struktur Populasi Trichogrammatoidea armigera,
Parasitoid Telur Helicoverpa armigera, Berdasarkan Analisis RAPD-PCR

(Bahagiawati 1, Damayanti Buchari 2, Nurindah 3, H. Rizjaani 1,
Dwinita W. Utami 1, B. Sahari 2, dan A. Sari 2
)

1 Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Bioteknologi dan Sumberdaya Genetik Pertanian
Jalan Tentara Pelajar 3A, Bogor 16111
2 Jurusan Hama dan Penyakit Tanaman, Institut Pertanian Bogor, Kampus IPB Dramaga, Bogor
3 Balai Penelitian Tanaman Tembakau dan Serat, Jalan Raya Karangploso, Kotak Pos 199 Malang 65152

ABSTRACT

Population Structure of Trichogrammatoidea armigera, Egg Parasitoid of Helicoverpa armigera Based on RAPD-PCR Analysis. Bahagiawati, Damayanti Buchari, Nurindah, H. Rizjaani, Dwinita W. Utami, B. Sahari, and A. Sari. Genetic structures of Trichogrammatoidea armigera (Hymenoptera: Trichogrammatidae), the egg parasitoid of Helicoverpa armigera (Lepidoptera: Noctuidae) were studied. Egg masses of H. armigera were collected from fields of several locations in West Java and East Java with different distances among them and two distinct cultural practices, i.e., monoculture and polyculture. Genetic relationships among T. armigera populations that emerged from the collected H. armigera eggs were analysed by the RAPD-PCR technique using four oligonucleotide primers. The four primers revealed 55 presumptive polymorphic loci that were used to estimate the population structures. The estimated values of Fixation Index (Fst) was 0.16, indicating that there was a division of the populations into subpopulations. This Fst value implied the present of reproductive isolation among the populations that might be due to their low migration rate (1.3 insect per generation). This low migration rate indicated the present of low level of gene flow among the populations. A dendrogram resulted from the NTSYS analysis indicated that the West Java and East Java populations of the egg parasitoid had quite wide genetic distances, while within each of the populations there was a subdivision of minor populations. This finding has an important implication on the program to release Trichogramma spp. as a biological control agent. The release of the parasitoid cannot be done randomly, because if we pick up a minor population, the starter or the released population will mate with the local population and multiply, thus the inundation will fail to control the target pest.

Keywords: Trichogrammatoidea armigera, egg parasitoid, Helicoverpa armigera, population structure.

Helicoverpa armigera (Lepidoptera: Noctuidae) merupakan salah satu hama penting yang menyerang tanaman kapas di Indonesia. Hama ini tersebar di berbagai daerah di Afrika, Timur Tengah, Eropa Selatan, Asia Tengah, Australia, Selandia Baru, dan beberapa pulau di lautan Pasifik (Zhou et al. 2000). Hama ini merupakan hama penting di Indonesia pada berbagai tanaman pertanian seperti kapas, jagung, kedele (Nurindah dan Bindra 1989). Serangga polifag ini mempunyai mobilitas yang tinggi dan mampu berkembang menjadi resisten terhadap beberapa insektisida yang umumnya dipakai petani (Zhou et al. 2000).
Parasitoid telur dari genus Trichogramma dan Trichogrammatidae merupakan parasitoid yang umumnya digunakan untuk pengendalian hayati hama dari Lepidoptera. Parasitoid ini sulit untuk diidentifikasi, karena ukurannya sangat kecil. Di samping itu, kurangnya karakter pengenal yang dapat digunakan untuk mengidentifikasi parasitoid ini menambah kesulitan dalam usaha pengendalian tersebut (Silva et al. 1999).
Beberapa penelitian juga menyebutkan bahwa keefektifan parasitoid sebagai agen pengendali hama di lapang sangat dipengaruhi oleh struktur populasi yang terbentuk. Terbentuknya struktur populasi ini sangat dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain perilaku parasitoid itu sendiri (Vaughn dan Antolin 1998), kondisi agroekosistem dan faktor abiotik yang berpengaruh pada distribusi parasitoid (Roderick 1996; Slatkin 1994).
Selama ini diketahui bahwa populasi merupakan kelompok individu yang berasal dari satu spesies yang mendiami habitat tertentu, dengan interaksi yang terjadi secara acak sehingga populasi menjadi relatif berkesinambungan, dan biasa disebut dengan populasi tradisional (panmictic population). Kejadian di alam menunjukkan bahwa interaksi di dalam populasi tidak terjadi secara acak, sehingga populasi dapat terbagi menjadi beberapa kelompok yang disebut sub-sub populasi (McCullough 1996). Interaksi yang tidak acak ini dapat dibuktikan dengan ditemukannya suatu fenomena ketidaksesuaian reproduksi (reproductive incompatibility), yaitu individu-individu yang berasal dari satu spesies tidak dapat melakukan kopulasi dan tidak menghasilkan keturunan (Sorati et al. 1996). Dengan demikian, keragaman genetik individu-individu dalam satu spesies sangat menentukan struktur populasi juga. Keberadaan subpopulasi bagi pengendalian hayati di lapang memberikan implikasi yang besar. Pada saat pelepasannya ternyata parasitoid tidak mampu berintegrasi dengan populasi lokal, sehingga populasi parasitoid di lapang tidak bertahan dan tidak dapat menekan populasi hama saat itu, yang menyebabkan pengendalian hayati menjadi gagal.
Beberapa penelitian yang meneliti tentang struktur populasi serangga dengan mengunakan teknik RAPD-PCR dan teknik lainnya telah dilakukan di luar negeri, seperti struktur populasi nyamuk Aedes aegypty (Apostol et al. 1996), nyamuk Anopheles darlingi (Manguin et al. 1999), dan Helicoverpa armigera (Zhou et al. 2000). Penelitian tentang keragaman genetik dan struktur populasi parasitoid baik Trichogramma atau Trichogrammatoidea di Indonesia belum pernah dilakukan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui keragaman genetik dan struktur populasi Trichogrammatoidea armigera berdasarkan analisis RAPD-PCR.

 

Download artikel lengkap (PDF)



instagram takipçi hilesi hacklink c99 shell Google