Dapatkah Bioteknologi Mendukung Program Ketahanan Pangan ?

Indonesia merupakan negara ASEAN pertama yang mengaplikasi tanaman produk bitoeknologi untuk tujuan komersial. Namun demikian, kemajuan usaha pemanfaatan produk tersebut tidak seperti yang diharapkan, sehingga beberapa pemangku kepentingan seperti petani, dan produsen benih, tidak bisa menikmati kemajuan teknologi itu untuk meningkatkan produksi pertanian. Sejak tahun 2003, kemajuan pemanfaatan tanaman produk bioteknologi untuk tujuan komersial mengalami penurunan. Beberapa aplikasi untuk tujuan komersial masih belum mendapat keputusan walaupun sudah bertahun-tahun diajukan.



Untuk menangani hal ini, beberapa pelatihan, seminar dan dialog telah dilakukan diantara pemangku-pemangku kepentingan untuk meningkatkan kepedulian masyarakat terhadap pemanfaatan tanaman produk bioteknologi ini. Walaupun begitu, pendidikan masyarakat ini tidak dapat dilakukan secara menyeluruh dalam area luas karena kesulitan pendanaan. Oleh karena itu, sosialisasi ini perlu dilakukan pada kelompok-kelompok yang penting yang memegang peranan, sehingga dari kelompok ini dapat menyebar luaskannya pada masyarakat yang lebih luas. Salah satu kelompok yang harus diberikan sosialisasi adalah pemerintah (instasi pemerintah terkait dalam pemanfaatan produk pertanian, impor dan ekspor produk pertanian). Untuk memberikan luasan dan pandangan dari sudut lain diundang juga kelompok pengusaha, LSM dan perhimpunan petani dan konsumen. Dengan meningkatnya pengetahuan pemerintah dalam hal ini regulator dan pengambil keputusan maka diharapkan dapat mempercepat pengambilan keputusan dalam memberikan izin komersialisasi tanaman produk bioteknologi. Kepedulian kelompok-kelompok baik pemerintah, petani, produsen dan konsumen diharapkan dapat meningkatkan penerimaan masyarakat terhadap aplikasi tanaman produk bioteknologi dan meningkatan aplikasi produk tersebut demi untuk kesejahteraan masyarakat Indonesia bersama.

Atas dasar berbagai pertimbangan tersebut, maka pada tanggal 14 Oktober 2008 bertempat di Ruang Nusantara 1, Gedung E Lantai 2, Kantor Pusat Departemen Pertanian, Jalan RM Harsono No. 3, Ragunan, Jakarta Selatan telah dilaksanakan seminar bertema "Dapatkah Bioteknologi Mendukung Program Ketahanan Pangan ?" .
Seminar ini terselenggara atas kerja sama Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Bioteknologi dan Sumber Daya Genetik Pertanian (BB-BIOGEN), Indonesian Biotechnology Information Centre (IndoBic), dan Perhimpunan Bioteknologi Pertanian Indonesia (PBPI), dan didukung oleh Michigan State University (MSU) Program for Biosafety System (PBS), Croplife Indonesia, South-East Asian Regional Centre for Tropical Biology (SEAMEO-BIOTROP).

Seminar ini dilaksanakan dengan tujuan untuk memfasilitasi proses pengambilan keputusan dan adopsi tanaman produk bioteknologi oleh pemangku-pemangku pentingan di Indonesia. Tujuan khususnya adalah:

  1. Memberikan informasi tentang produk bioteknologi meliputi status perkembangan adopsi global.
  2. Memberikan informasi pengalaman negara Filipina dalam mengadopsi tanaman produk bioteknologi.
  3. Memberikan informasi tentang potensi sosial ekonomi produk bioteknologi di Indoensia.
  4. Peranan tanaman produk bioteknologi dalam memenuhi kebutuhan bahan baku industri makanan dan minuman di Indonesia.
  5. Memberikan informasi tentang peraturan keamanan produk bioteknologi di Indoensia berikut kendala dalam implementasinya.
  6. Persepsi publik di Indonesia tentang tanaman produk bitoteknologi.

Pada seminar ini juga distribusikan 3 buah barang cetakan berupa 2 buku dan sebuah brosur masing-masing dengan judul:

  1. Isu dan Fakta tentang tanaman produk bioteknologi
  2. Status global tanaman produk bioteknologi dan potensi ekonominya
  3. Peraturan perundang-undangan tentang keamanan produk bioteknologi dan status perakitan tanaman produk bioteknologi di Indonesia.

Seminar dibuka oleh Kepala Badan Ketahanan Pangan Departemen Pertanian, Dr. Achmad Suryana. Dalam sambutannya Dr. Achmad Suryana menyampaikan bahwa telah terdapat perkembangan pesat dari luas area penanaman tanaman biotek didunia untuk memenuhi kebutuhan penduduknya. Tantangan dalam ketahanan pangan juga meningkat seiring dengan adanya pertambahan penduduk dan perubahan iklim dimana bioteknologi dapat menjadi salah satu alternatif pemecahan masalahnya. Indonesia menaruh harapan besar pada tanaman produk bioteknologi dalam mengatasi kebutuhan pangan, terbukti dengan banyaknya institusi pemerintah yang terlibat dalam perakitan tanaman bioteknologi. Perangkat peraturan-peraturan yang mengatur tentang keamanan tanaman transgenik sedang disapkan untuk melengkapi peraturan yang telah ada. Tantangan ke depan adalah membangun kepercayaan publik untuk memanfaatkan produk transgenik sehingga terwujud ketahanan pangan dan kesejahteraan rakyat.

Dalam seminar ini, disajikan 5 buah presentasi sebagai berikut:

  1. Prof. Dr. Bustanul Aririn, peneliti senior pada INDEF (Indonesian Institute for Development dan Finance) yang menginformasikan tentang ”Dimensi sosial-ekonomi pengembangan bioteknologi”.
    Peningkatan produktivitas pertanian tidak seiring dengan peningkatan jumlah penduduk sehingga dapat dijadikan justifikasi untuk menggunakan terobosan bioteknologi untuk mengejar ketinggalan ini. Namun demikian, hendaknya perhatian pada teknologi konvensional yang memberikan harapan juga hendaknya tidak ditinggalkan. Dari penelitian-penelitian di Indonesia diketahui bahwa produk tanaman transgenik dapat meningkatkan hasil dan pendapatan petani. Pendekatan kerjasama ABGC (academic, business, government, and community) merupakan pendekatan yang dapat diambil untuk memasyarakatkan tanaman produk bioteknologi ini. Saat ini masyarakat memerlukan kejelasan dari pemerintah tentang keamanan produk bioteknologi ini, dan meminta pemerintah lebih aktif memberikan dukungan seperti dalam peraturan-peraturan serta mengkomunikasikan ke masyarakat. Pertanian yang berkedaulatan hendaknya bisa tercapai sehingga Indonesia tidak hanya tergantung dari impor untuk memenuhi kebutuhannya.
  2. Ir. Thomas Darmawan, Ketua Umum GAPMMI (Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indoensia) dengan presentasi Kebutuhan produk bioteknologi oleh industri pangan di Indonesia.
    Thomas Darmawan menekankan bahwa meskipun produksi pangan dari beberapa komoditas cendrung naik tetapi masih dibawah kebutuhan pangan penduduk ditambah lagi dengan kenyataan bahwa konsumsi penduduk Indonesia masih sangat rendah terutama dibandingkan dengan negara maju. Industri pangan di Indonesia memainkan peranan penting dalam perekonomiannya, namun bahan bakunya masih tergantung dari impor. Kesimpang-siuran peraturan impor produk transgenik menyulitkan pelaku usaha dan meningkatkan komponen biaya, sehingga meminta pemerintah berperan untuk menyelesaikan masalah dengan menyempurnakan peraturannya sehingga dapat diimplementasikan dengan mudah. Thomas juga menekankan bahwa perhatian tidak hanya harus dicurahkan untuk tanaman produk bioteknologi tetapi juga komoditas lainnya yang dihasilkan dengan teknologi lainnya.
  3. Dr. M. Herman dari Badan Litbang Pertanian menyampaiakan informasi mengenai ” Regulasi, implementasi dan kendalanya dalam pemanfaatan produk bioteknologi di Indonesia.
    Secara umum sikap Pemerintah RI terhadap tanaman produk biotek adalah ”menerima dengan pendekatan kehati-hatian.” Sebagai syarat utama, produk ini harus memenuhi persyaratan keamanan lingkungan, keamanan pangan, dan memperhatikan kaidah agama, etika, sosial budaya, dan estetika. Peraturan-peraturan telah disiapkan, dari ratifikasi protokol Cartagena, hingga penerbitan Undang-Undang dan Peraturan Pemerintah tentang keamanan hayati dan keamanan pangan. Namun demikian, masih menghadapi berbagai hambatan dalam penerapannya, karena pemahaman yang kurang terhadap regulasi, kurangnya komitmen lembaga pemerintah, dan beragamnya persepsi publik sehingga pengambil kebijakan mengalami kesulitan untuk merumuskan kebijakan yang bersifat konsensus.
  4. Dr. Mariechel Navarro, dari ISAAA (International Services for the Acquisition of Agri-biotech Application) menyampaikan tentang “Pengalaman adopsi jaagung-Bt: dari berbagai aspek berbagai pemangku kepentingan”.
    Di Philipina tanaman produk biotek telah ditanam untuk tujuan komersil sejak tahun 2002 dimana luas penanaman mengalami peningkatan tiap tahunnya. Tanaman produk bioteknologi ini memberikan keuntungan lebih tinggi dan mengurangi pemakaian pestisida sehinga petani memiliki persepsi yang positif terhadap jagung transgenik ini. Proses perijinan untuk komersialisasi adalah sangat ketat yang memakan waktu bertahun-tahun. Selama itu mendapat tantangan dari komponen masyarakat terhadap tanaman yang sedang diuji, misalnya pencabutan tanaman percobaan, aksi mogok makan, penggalangan pemuka agama menentang jagung transgenik, dan pemberitaan negatif di media massa. Hal ini dilawan dengan sistem pendukung yang kuat dan terorganisir dari institusi publik dan swasta, universitas, para ilmuwan yang meyakinkan pembuat kebijakan dan badan legislatif akan manfaat produk biotek ini. Aktivitas yang dilakukan antara lain sosialisasi kepada masyarakat, workshop untuk ilmuwan dan penyuluh, penerangan kepada media massa, serta pertemuan dengan pemuka agama, LSM, dan pembuat kebijakan. Tidak hanya itu pemerintah juga membuat dan mengeluarkan peraturan pemerintah yang mendukung dan proses evaluasinya yang berdasarkan fakta ilmiah dan dilakukan dengan transparan.
  5. Dr. Bambang Purwantara dari IndoBic (Indonesian Bitoechnology Information Center) dengan judul Persepsi dan sikap publik terhadap produk bioteknologi pertanian.
    Bambang menyatakan bahwa perlu dijelaskan ke publik tentang mitos dan fakta tentang manfaat dan risiko tanaman biotek untuk meluruskan pandangan dan persepsi publik. Persepsi masyarakat/publik di Indonesia masih beragam, tergantung pada kelompok mana publiknya, apakah konsumen atau produsen, petani, wartawan, birokrat dan sebagainya. Kebanyakan stakeholder di Indonesia memiliki keterbatasan pengetahuan tentang bioteknologi, oleh sebab itu perlu ditingkatkan sosialisasi dengan memberikan informasi yang benar yang dapat dilakukan dengan berbagai cara. Bambang merekomendasikan harus ada kerjasama antar stakeholders seperti peneliti, petani, birokrat, wartawan dan ulama untuk sosialisasi. Hasil jejak pendapat juga menyatakan bahwa ilmuwan dari universitas dianggap sebagai narasumber yang dapat dipercaya, sehingga untuk sosialisasi diperlukan adanya kemitraan dengan universitas.

Beberapa butir pokok pemikiran yang berhasil terangkum dari seminar ini dapat disampaikan sebagai berikut:

  • Teknologi transgenik merupakan salah satu terobosan yang dapat dimanfaatkan untuk menjawab tantangan dari pertambahan penduduk, penyempitan lahan pertanian, krisis energi dan perubahan iklim.
  • Pemanfaatan produk bioteknologi di Indonesia masih sangat terbatas, dan masih didominasi produk multinasional. Produk transgenik lokal sejauh ini belum ada yang dilepas dan masih dalam fase penelitian dan pengujian.
  • Dari data sosial-ekonomi yang dilakukan di Indonesia terlihat bahwa produk bioteknologi memberikan peningkatan margin keuntungan yang cukup signifikan bagi petani, jika dibandingkan dengan produk konvensional yang telah dimanfaatkan petani.
  • Tingkat adopsi produk bioteknologi mungkin dapat ditingkatkan apabila dalam proses pengembangan dan pengenalannya tidak hanya melibatkan peneliti dan aparat pemerintah, namun juga partisipasi dari petani, industri/swasta, dan elemen masyarakat lainnya. Oleh karena itu kebijakan pemerintah yang koheren dan konsisten sangat diperlukan.
  • Secara umum sikap Pemerintah RI terhadap produk rekayasa genetik adalah ”menerima dengan pendekatan kehati-hatian.” Sebagai syarat utama, produk rekayasa genetik harus memenuhi persyaratan keamanan lingkungan, keamanan pangan, dan memperhatikan kaidah agama, etika, sosial budaya, dan estetika. – Perangkat hukum pun telah disiapkan, dari ratifikasi protokol Cartagena, hingga penerbitan Undang-Undang, Peraturan Pemerintah, dan Keputusan Menteri tentang keamanan hayati dan keamanan pangan. Akan tetapi masih dihadapi berbagai hambatan dalam penerapannya, karena pemahaman yang kurang terhadap regulasi, kurangnya komitmen lembaga pemerintah, dan beragamnya persepsi publik sehingga pengambil kebijakan mengalami kesulitan untuk menetapkan keputusannya.
  • Pengalaman di Philipina menunjukkan bahwa pemanfaatan produk bioteknologi menunjukkan tren yang terus meningkat karena mendapat respon positif dari petani akibat meningkatnya keuntungan, dan kemudahan budidaya. Hal ini terjadi berkat dukungan dari pemerintah, yang memberikan peraturan dan guideline/pedoman yang jelas, berdasarkan fakta ilmiah, dan prosesnya dapat diikuti secara transparan. Di samping itu berbagai institusi pemerintah terkait dan para ilmuwan berperan aktif dalam memberikan penerangan kepada masyarakat dan para pemangku kepentingan (stakeholders). Peran petani dan Ulama juga tidak dapat diabaikan dalam memberikan informasi kepada masyarakat tentang manfaat dan risiko produk bioteknologi ini.
  • Persepsi publik di Indonesia tentang manfaat tanaman bioteknologi masih beragam. Hal ini disebabkan oleh pandangan yang dimitoskan yang beberapa diantaranya tidak sesuai dengan fakta. Persepsi publik berbeda-beda tergantung pada kelompok masyarakatnya, semisalnya akademisi, scientist, pemerintah, konsumen, produsen, petani, wartawan dan sebagainya. Ternyata pengetahuan tentang bioteknologi dari masing-masing individu dalam kelompok-kelompok tersebut umumnya masih kurang, kecuali beberpa kelompok peneliti dan akademisi. Oleh sebab itu perlu ditingkatkan sosialisasi dengan memberikan informasi yang benar. Sosialisasi ini dilaksanakan dengan kerjasama antar pemangku kepentingan termasuk akedemis dari universitas yang menurut hasil survei merupakan narasumber yang paling dipercayai oleh masyarakat. Sosialisasi ini dapat dilakukan dengan berbagai media dan mekanisme/cara.

Hasil diskusi memperlihatkan bahwa hampir semua partisipan memandang bahwa tanaman produk bioteknologi merupakan salah satu alternatif dalam pemenuhan sandang, pangan dan pakan di Indonesia, hanya masyaarakat perlu jaminan dari pemerintah tentang keamanan dari produk tersebut. Oleh sebab itu peraturan-peraturan mengenai keamanan tanaman produk bioteknologi harus dilengkapi dan disempurnakan dengan intrumen lain yang diperlukan sehingga peraturan-peraturan tersebut mudah dan dapat diimplementasikan. Peraturan yang pasti mengenai pelabelan perlu diperjelas, kalau perlu dimodifikasi sehingga mudah diimplementasikan pula. Hal ini sangat dinantikan baik oleh industri maupun konsumen. Meskipun tanaman produk bioteknologi menjanjikan, namun produk pertanian hasil teknologi konvensional yang telah menunjukkan manfaat seyogyanya jangan ditinggalkan. Untuk mengurangi ketergantungan pada impor, maka perlu digalakkan perakitan tanaman transgenik dalam negeri. Dalam pemasyarakatan dan pemanfaatan tanaman produk bioteknologi ini kerjasama yang baik antar pemerintah, akademisi, pengusaha, dan masyarakat sangat diperlukan, demikian pula dengan program sosialisasinya.

[Dilaporkan oleh: Bahagiawati A.]

Badan Litbang Bioteknologi & Sumberdaya Genetik Pertanian, Kampus Penelitian Pertanian, Cimanggu, Kota Bogor

BB Biogen

Badan Litbang Bioteknologi & Sumberdaya Genetik Pertanian, Kampus Penelitian Pertanian, Cimanggu, Kota Bogor

wso shell indoXploit shell wso shell hacklink hacklink satışı hacklink satış deface mirror wso shell