Prosiding Seminar Tahun 2002_20

PROSIDING TAHUN 2002
Seminar Hasil Penelitian Rintisan dan Bioteknologi Tanaman

Bogor, 26-27 Desember 2001
——————————


Evaluasi Heterosis Tanaman Jagung

(Hadiatmi, Sri G. Budiarti, dan Sutoro)
 

ABSTRAK

 

Informasi mengenai nilai heterosis dan pengaruh daya gabung dari generasi F1 sangat diperlukan untuk menentukan tetua yang baik dalam perakitan hibrida unggul. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui nilai heterosis, daya gabung serta gen yang mempengaruhi beberapa sifat pada persilangan diallel. Lima belas rekombinan F1 telah diperoleh dari persilangan diallel antarenam galur inbrida (tetua) yang berasal dari Balitjas Maros dan Balitbio Bogor, pada musim kemarau 2001 di Inlitbio Cikeumeuh Bogor. Pada musim hujan 2001 dilakukan pengujian terhadap 15 rekombinan F1 bersama dengan enam inbrida tetua dan dua varietas baku (Bisma dan C-7) di Inlitbio Citayam Bogor. Percobaan meng-gunakan rancangan acak kelompok dengan 3 ulangan. Nilai heterosis hasil dari hibrida yang diuji lebih tinggi daripada rata-rata kedua tetuanya (62,4-223,8%). Hibrida J1-19-1-3-1-f/Arc1-178-1-4-1-3-1-1-1- x b memberikan heterosis hasil dan hasil biji kering tertinggi, yaitu 223,8% dan 9,13 t.ha-1. Semua hibrida yang diuji mempunyai umur berbunga betina lebih awal daripada tetuanya dengan nilai heterosis negatif. Tetua J1-46-2-9-f, merupakan penggabung umum yang terbaik untuk hasil dan panjang tongkol, tetua SW2-30-2-1-1-#-2-1-2-# untuk umur 50% berbunga betina dan tinggi tongkol, tetua J1-19-1-3-1-f untuk tinggi tanaman, dan tetua Arc1-178-1-4-1-3-1-1-1- x b untuk diameter tongkol dan jumlah baris biji. Lima kombinasi persilangan mempunyai daya gabung khusus yang baik untuk hasil.

Kata kunci: Heterosis, daya gabung, jagung

ABSTRACT

The effect of heterosis is one of the important characteristics to obtain hybrid. The experiment was conducted to measure the heterosis value and effect of combining ability in F1 generation, and also to gain the nature of gene action on each characters. Fiveteen diallel crosses (F1) were made among six parent lines in the dry season of 2001 in Bogor. The material consist of six parent lines, 15 diallel crosses (F1), and two check varieties of Bisma and C-7 were tested in the wet season of 2001 in Bogor, using a randomized complete block design with three replications. Heterosis value for yield of hybrids ranged from 62,4-223,8% more than they mid parent values. The hybrid of J1-19-1-3-1-f/Arc1-178-1- 4-1-3-1-1-1- x b was superior hybrid which produced the highest heterosis (223,8%) and grain yield (9,13 t.ha-1). All of hybrid flowered earlier than the midparent value. Line J1-46-2-9-f had good general combining ability (gca)/for yield and ear length. Line SW2-30-2-1-1#2-1-2-# had good gca for flowering date and ear height. Line Arc1-178-1-4-1-3-1-1-1- x b had good gca for diameter of ear and number of grain rows. Five hybrids showed the heighest heterosis value for yield, produced high grain yield, and had good specific combining ability.

Key words: Heterosis, combining ability, corn

Download artikel lengkap (PDF)



instagram takipçi hilesi hacklink c99 shell Google