Siaran Radio Pertanian Ciawi Tanggal 29 Januari 2009.

Pernahkah anda melihat penampilan tanaman yang unik dan indah, atau ketika anda menikmati suatu jenis buah-buahan yang manis dengan kualitas istimewa sehingga membuat anda ingin memiliki jenis tanaman tersebut yang persis sama dengan induknya, baik untuk dinikmati sendiri atau bahkan ingin menjualnya? Teknik kultur jaringan adalah jawabannya.

Dalam siaran Radio Pertanian Ciawi tanggal 29 Januari 2009 yang lalu menghadirkan peneliti senior dari BB Biogen, khususnya peneliti di bidang kultur jaringan, yaitu Dr. Ika Mariska, APU dan Ir. Yati Supriati. Selama siaran interaktif berdurasi satu jam ini, kedua peneliti senior tadi menyampaikan materi siaran dengan tema Aplikasi Teknik Kultur Jaringan untuk Perbanyakan Tanaman pada Skala Usaha Kecil.



”Selama ini teknik kultur jaringan selalu dibayangkan sebagai teknologi yang sangat sulit, yang sebenarnya dapat anda lakukan di rumah sendiri dengan peralatan sederhana.  Syarat terpenting adalah anda harus bekerja dalam suatu lingkungan dan cara kerja yang aseptil/steril, artinya suatu keadaan yang bebas dari mikroorganisme seperti bakteri dan jamur”,  

Kedua peneliti senior tadi lalu membahas tentang penerapan teknik  kultur jaringan untuk perbanyakan tanaman pada skala usaha kecil dengan harapan dapat menambah informasi awal bagi para pecinta tanaman, ataupun para petani dan pengelola kebun bibit yang ingin mencoba menyelami dunia kultur jaringan, dengan ulasan sebagai berikut. 

Teknik kultur jaringan adalah suatu cara menumbuhkan bagian tanaman (akar, batang, daun, tunas pucuk, dan biji) di dalam suatu wadah/botol yang berisi media tumbuh yang steril. Beberapa kegunaan dari teknik ini antara lain :

a) untuk memperbanyak tanaman secara masal,

b) untuk memperbaki sifat-sifat tanaman ,

c) untuk memproduksi senyawa metabolit sekunder, seperti bahan parfum, dan  obat-obatan, 

d) untuk pelestarian tanaman secara in vitro.   

Dalam upaya perbanyakan tanaman diperlukan lima langkah kegiatan yang saling terkait satu sama lain yaitu:

1) penyiapan tanaman induk yang akan diperbanyak di rumah kaca, sehingga diperoleh suatu kondisi fisiologis yang optimal,

2) sterilisasi bahan tanaman,

3) penanaman pada media multiplikasi tunas,

4) penanaman pada media perakaran, dan

5) melakukan aklimatisasi di rumah kaca. 

Untuk melaksanakan kegiatan tersebut diatas diperlukan suatu laboratorium dan rumah kaca sebagai sarana kerja.  Untuk laboratorium tidak perlu membangun ruangan khusus, karena salah satu ruangan yang sudah ada di rumah kita dapat di modifikasi menjadi laboratorium mini untuk melaksanakan kegiatan kultur jaringan.  Yang terpenting adalah perlu pemisahan antara ruang kerja dan ruang penyimpanan biakan (ruang kultur).

Ruang kerja digunakan untuk membuat media, persiapan eksplan, dsb, sedangkan ruang kultur dapat digunakan untuk kegiatan tanam sekaligus untuk menyimpan biakan tanaman.  Di dalam ruang kultur disediakan rak-rak yang dilengkapi dengan lampu TL sebagai sumber pencahayaan dan penyejuk ruangan (AC) untuk mengatur temperature ruangan yang diinginkan. 

Rumah kaca atau rumah plastik diperlukan untuk memelihara tanaman induk sebelum dilakukan pengkulturan dan untuk adaptasi planlet sebelum di tanam di lapangan. Selain ruangan, sarana lain yang diperlukan adalah peralatan laboratorium, bahan kimia serta bahan penunjang.  Berikut adalah  daftar alat dan bahan kimia yang diperlukan untuk melaksanakan suatu kegiatan kultur jaringan (Tabel 1). 

Untuk memenuhi pengadaan peralatan dan bahan kimia tentunya diperlukan biaya.  Sebagai perkiraan, untuk usaha skala besar atau industri pada awal usaha diperlukan dana sekitar 250-300 juta, diluar bangunan.  Sedangkan untuk skala usaha kecil diperkirakan antara 10-25 juta (tidak termasuk bangunan) tergantung sarana yang sudah tersedia di rumah dan tingkat modifikasi yang akan dilakukan. 

Tabel 1.  Daftar peralatan, bahan kimia, dan bahan penunjang untuk kultur jaringan.
N0Skala besarSkala kecil
 Peralatan 
1AutoclavePanci bertekanan (Pressure cooker)
2Oven listrik besarKompor gas dan oven kecil
3Laminar FlowEnkas sederhana
4ShakerDikocok dengan pengaduk kecil
5Timbangan analitikTimbangan rumah tangga
6pH meterKertas lakmus
 Bahan kimia dan penunjang 
1Garam mineral makro dan mikroPupuk  dalam kemasan
2vitaminBahan organik seperti pisang, air tomat, air rebusan toge
3Zat pengatur tumbuh sitokinin, auksin, giberalinAir kelapa, atau zpt yang sudah dikemas di toko pertanian
4Alat-alat gelas pyrex,al-foil, tabung reaksi dan botol kultur, plastic wrapDapat menggunakan alat-alat gelas yang  sederhana seperti botol bekas selai atau saus, foil dapat diganti dengan plastic tahan panas

Dibandingkan dengan cara konvensional, perbanyakan tanaman melalui teknik kulturjaringan mempunyai beberapa keuntungan antara lain:

1) karena tingkat multiplikasi yang tinggi, maka bibit dapat diperbanyak dalam jumlah tidak terbatas, cepat, dan seragam,

2) mempunyai sifat yang sama dengan induknya,

3) bibit terbebas dari hama dan penyakit, terutama virus,

4) mudah dalam pengiriman bibit, karena dapat dikirim tanpa tanah, dan 

5) tidak tergantung musim,kapan pun dapat diperbanyak. 

Disamping mempunyai kelebihan, teknik kultur jaringan pun mempunyai beberapa kelemahan yaitu:

1) Biaya yang dibutuhkan relatif lebih mahal karena membutuhkan daya listrik yang cukup untuk Air conditioned (AC) dan pencahayaan, walaupun demikian kebutuhan AC dapat ditekan apabila lokasinya berada pada daerah yang bersuhu dingin,

2) Pada tahap awal memerlukan dana cukup tinggi terutama untuk pembelian alat laboratorium,

3) Sering terjadi kontamnasi bakteri dan jamur,sehingga memerlukan disiplin untuk selalu bekerja secara aseptik,

4) dapat terjadi mutasi, walaupun untuk jenis tanaman hias kadang-kadang  memberikan nilai positif,

5) memerlukan kesabaran, keterampilan dan ketekunan yang tinggi, dan

6) khusus pada tanaman berkayu memerlukan teknis yang lebih kompleks, mengingat sering terjadi pencoklatan (browning) yang dapat menghambat respon jaringan tanaman terhadap media. 

Dengan memperhatikan kelebihan dan kekurangannya,   maka tidak semua jenis tanaman cocok untuk diperbanyak melalui  kultur jaringan. Beberapa pertimbangan perlu dilakukan agar tingkat efisiensi dan manfaatnya cukup tinggi. Tanaman yang sulit diperbanyak dengan biji,  Varietas baru yang jumlahnya sangat terbatas, tanaman yang mempunyai nilai ekonomi tinggi  seperti tanaman hias, tanaman yang selalu diperbanyak secara vegetatif, serta tanaman yang diperlukan dalam jumlah masal dan akan dikembagkan secara luas, merupakan kelompok tanaman yang  dianjurkan untuk diperbanyak melalui kultur jaringan. 

Beberapa jenis tanaman yang telah berhasil diperbanyak di BB Biogen antara lain: pisang, jeruk, belimbing, sukun, dan nenas (tanaman buah-buahan),  anggrek, mawar, caspea, anthurium, sansiviera, anyelir,lily, krisan, dan gerbera (tanaman hias), pegagan, pulai pandak, Anechtochilus taiwanensis, purwoceng, pulai, bidara upas dan Artemisia (tanaman obat), ubi jalar, ubi kayu, iles-iles, dan sato imo (tanaman ubi-ubian), tebu, jambu mete, vanilla, nilam, cengkih, menta, dan lada (tanaman industri)

Sebagai  ilustrasi, berikut disajikan suatu model perbanyakan bibit pisang melalui kultur jaringan.

Lima langkah kegiatan yang akan dilakukan adalah:

1) Persiapan eksplan,

2) sterilisasi eksplan,

3) penanaman pada media pertunasan,

4) penanaman pada media perakaran, dan

5) aklmatisasi di rumah kaca. 

Langkah 1.  Persiapan eksplan

Bagian tanaman yang akan digunakan sebagai bahan untuk inisiasi kultur disebut eksplan. Untuk tanaman pisang eksplan dapat berasal dari tunas anakan atau mata tunas bonggol. Tunas anakan mempunyai keberhasilan lebih tinggi dibandingkan dengan bonggol.  Ambil 1 buah tunas anakan dari pohon pisang yang sudah pernah berbuah kira-kira 5 cm untuk disterilisasi.  

Langkah 2.  Sterlisasi eksplan

Sterilisasi eksplan merupakan langkah awal yang cukup penting, karena eksplan yang akan ditanam harus bebas dari mikroorganisme. Eksplan yang sudah dipilih, dipotong-potong kurang lebih 1cm persegi dan cucilah dengan air mengalir, lalu rendam dengan air sabun selama 20-30 menit.  Kemudian masukkan eksplan ke dalam wadah steril dan tambahkan alcohol 70% , goyang selama 3-5 menit.  Setelah alcohol dibuang, rendamlah dalam larutan HgCl2 0.2% selama 2 menit, lalu rendam dalam laruran chlorox 30% dan 20% masing-masing selama 5-10 menit, tergantung kekerasan jenis eksplan.  Terakhir, eksplan dibilas dengan aquades steril sebanyak 3 kali. 

Langkah 3.  Penanaman pada media multiplikasi tunas    

Tanam eksplan pada media MS yang mengandung BAP 2-5 mg/l. kemudian simpanlah pada ruang kultur dengan intensitas cahaya 800-1000 lux selama 16 jam pada suhu 20-22oC.  Laju multiplikasi tunas pisang bervariasi antara 3-10 atau lebih per bulan tergantung varietasnya, sehingga mampu menghasilkan ribuan atau jutaan tunas per tahun 

Langkah 4.  Penanaman pada media perakaran

Setelah tunas dapat digandakan, maka saatnya biakan dipindahkan (sub kultur) ke media perakaran, yaitu media dasar MS yang ditambah dengan IAA 0.1-0.2 mg/l.  Untuk jenis pisang tertentu seperti raja bulu dan Cavendish, setelah media pertunasan perlu ditransfer ke media perakaran, sedangkan pisang tanduk, raja sere dan kapok kuning tidak perlu ditransfer lagi karena perakarannya sudah terbentuk pada media pertunasan. Artinya dapat memotong satu langkah untuk langsung diaklmatisasi di rumah kaca. 

Langkah 5.  Akimatisasi di rumah kaca

Setelah biakan di dalam botol memiliki pertumbuhan dan perakaran yang sempurna (biasanya 8-10 bulan,  tergantung varietas) maka biakan sudah saatnya dikeluarkan dari botol untuk ditanam di rumah kaca.  Mula-mula botol dpindahkan kerumah kaca 2-3 hari sebelum tanam, dengan tujuan penyesuaian lingkungan  (hardening), kemudian bibit dikeluarkan dari botol dengan cara membersihkan dibawah air mengalir sampai tidak ada lagi sisa agar-agar yang melekat pada tanaman. Rendam dalam larutan fungisida 2 g/l selama 5-10 menit, kemudian kering anginkan diatas kertas Koran. Selanjutnya ditanam pada polibag yang berisi campuran media tanah dan kompos dengan perbandingan 1:1.  Susun polibag secara teratur dan tutuplah dengan sungkup gelas aqua untuk menjaga kelembaban lingkungan tumbuh.  Pemeliharaan bibit pisang di rumah kaca memerlukan waktu 4-6 minggu sebelum siap ditanam kelapangan atau kira-kira tinggi bibit sekitar 30-40 cm. 

Bagi para peminat kultur jaringan,  BB Biogen khususnya Kelti Biologi sel dan jaringan menyediakan konsultasi dan pelatihan kultur jaringan dalam dua kategori yaitu tingkat dasar dan tingkat lanjutan.  Tingkat dasar dititikberatkan untuk  perbanyakan tanaman dan pesertanya adalah para pecinta tanaman, petani dan pemilik nurseri tanaman hias dan pengelola kebun bibit. Sedangkan tingkat lanjutan ditujukan kepada para peminat yang ingin memanfaatkan teknik kultur jaringan untuk perbaikan varietas. 

Pelatihan dilaksanakan di Laboratorium Kultur Jaringan BB Biogen, Jalan Tentara pelajar no 3A Bogor. Tel 0251-337975, E-mail: borif@indo.net.id dan berlangsung selama 10 hari kerja. Materi yang diberikan meliputi teori dan praktek yang disampaikan  oleh para peneliti yang sudah berpengalaman dalam dunia kultur jaringan.

Badan Litbang Bioteknologi & Sumberdaya Genetik Pertanian, Kampus Penelitian Pertanian, Cimanggu, Kota Bogor

BB Biogen

Badan Litbang Bioteknologi & Sumberdaya Genetik Pertanian, Kampus Penelitian Pertanian, Cimanggu, Kota Bogor

wso shell indoXploit shell wso shell hacklink hacklink satışı hacklink satış deface mirror wso shell