Wabah Ulat Bulu: Peran Koleksi Referensi Serangga dan Bioteknologi

Fenomena ulat bulu yang menghiasi hampir satu bulan pemberitaan akhir-akhir ini memang cukup menyita perhatian para praktisi hama khususnya, serta dunia pertanian kita pada umumnya. Satu hal yang mendesak dan menjadi tuntutan dari masyarakat untuk segera dilakukan adalah tindakan konkret langkah-langkah pengendalian terhadap hama tersebut. Berbicara mengenai pengendalian hama, maka satu langkah terdepan yang selalu menjadi pijakan dalam menentukan strategi pengendalian adalah kepastian “¬Å“identitas”¬  sang hama, atau sederhananya dicakup dalam kegiatan identifikasi.  Identifikasi menjadi penting manakala terjadi kesimpang-siuran terhadap identitas hama; dimana dalam hal ulat bulu ini, ditengarai media masa yang notabene dalam pemberitaannya terkadang hanya didasarkan pada opini masyarakat yang berkembang, bukannya menjadikan masalah menjadi sederhana namun malah menambah pelik keadaan dan kecemasan. Di sinilah peran peneliti sangat diperlukan untuk “¬Å“meredam”¬   meluasnya opini publik yang belum tentu benar.

Peran Koleksi Serangga

Satu perangkat atau sarana yang selama beberapa dekade telah banyak berperan dalam memberikan solusi terkait pengendalian hama- khususnya sebagai acuan atau pedoman untuk mengetahui secara cepat namun akurat terhadap identitas suatu hama di Indonesia adalah Koleksi Referensi Spesimen Serangga (KRSS) yang dikelola oleh Balai Besar Bioteknologi dan Sumberdaya Genetik Pertanian.  Menurut sejarahnya, koleksi ini telah dibangun sejak masa pemerintahan kolonial Belanda, dengan salah satu kolektor yang tersohor dengan hasil karyanya “¬Å“The Pest Of Crops In Indonesia”¬  yaitu L. G. Kalshoven. Siapa pun praktisi hama di negeri ini pasti sangat familiar dengan buku tersebut- yang biasanya menjadikannya sebagai “¬Å“buku-sakti”¬ -nya untuk mengetahui jenis-jenis hama di indonesia. Di Indonesia sendiri saat ini hanya terdapat dua institusi lain yang juga memiliki dan mengelola koleksi serangga secara profesional, yaitu di Museum Zoologi di Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia dan Meseum Serangga di Taman Mini Indonesia Indah. Koleksi Referensi Spesimen Serangga yang ada di BB-BIOGEN pada hakekatnya berkat kerja keras para taksonom di masa lalu yang menyimpan secara permanen spesimen hasil penelitiannya lengkap dengan label yang memuat informasi yang berhubungan dengan spesimen tersebut seperti nama spesies/genus/famili/order, lokasi distribusi, inang/preferensi inang dan siklus hidup. Dalam koleksi ini, tidak hanya serangga yang berstatus hama pertanian saja yang disimpan, akan tetapi juga serangga yang berperan sebagai musuh alami, misalnya predator maupun berbagai jenis parasitoid serta serangga penting lainnya yang dapat dijadikan acuan untuk menetapkan status karantinanya. Dan berdasarkan koleksi yang telah berumur lebih dari satu abad inilah, dasar penulisan buku “¬ The Pests Of Crops In Indonesia”¬  tersebut dibuat oleh Kalshoven. Menurut Siwi (1989), koleksi referensi serangga memiliki fungsi yang sangat strategis, antara lain : menjadi sumber referensi/konfirmasi untuk identifikasi secara cepat dan akurat, merupakan basis dalam pengambilan keputusan suatu tindakan pengendalian hama, pest risk analysis, manajemen karantina serta biosekuriti tanaman. Peningkatkan peran koleksi dan manfaatnya bagi ilmu pengetahuan dan masyarakat di masa depan perlu memperoleh perhatian dari pembuat kebijakan, karena perlu dilakukan usaha validasi yang terus menerus khususnya terhadap serangga endemik, serangga karantina dan serangga berguna lainnya agar menjadi bahan informasi data kesehatan tanaman yang up to date. Koleksi referensi serangga di BB Biogen saat ini difasilitasi ruang khusus yang sangat memenuhi kriteria penyimpanan koleksi, yaitu berupa gedung baru dengan fasilitas pendingin yang selalu terjaga temperaturnya sehingga keawetan koleksi dapat terjaga dengan baik.  Hingga kini, tercatat sebanyak 134 famili yang mewakili 9 ordo serangga dari sekitar 7500 spesies, dengan total jumlah spesimen diperkirakan mencapai lebih dari 75.000 spesimen. Dalam koleksi ini, tercatat sebanyak 41 spesies (Tabel. 1) dari famili Lymantriidae (Ordo Lepidoptera)- salah satu famili serangga yang kini menjadi populer karena beberapa spesiesnya  populasinya “¬Å“meledak”¬  di Jawa Timur yaitu Arctornis submarginata, Lymantria marginata dan Dasychira inclusa atau oleh masyarakat lebih dikenal dengan “¬ ulat bulu.

Tabel 1. Spesies Lymantriidae di Koleksi Referensi Spesimen Serangga BB Biogen

No Spesies Inang Lokasi
1.  2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 Dasychira grossa Pag.  Dasychira securis Hb. Dasychira inclusa Dasychira mendosa Hubn Dasychira costalis  Wlk Dasychira mendosa Hubn F clevisa Walk. Dasychira mendosa Hubn F. fusiformis Walk. Dasychira mendosa Hubn F. bisalis Walk Dasychira inclusa Walk. Dasychira invaria inclusa Walk. Dasychira pennatula Fabr. Dasychira securis Hubn. Dasychira horsfieldi Saund. Dasychira area collenetta Euproctis minor Snellen Euproctis digramma Boisd. Euproctis bimaculata Walk. Euproctis bigutata Walk. Euproctis isabellina Heys. Euproctis subfasciata Walk. Euproctis varians Walk. Euproctis punctatopasciata V.E. Euproctis plana Walk.(= Euproctis catala Swinh) Euproctis lodra Moore. Euproctis (Nygmia) servilis Walk. Euproctis flexuosa Veen Euproctis calvella Strd. Euproctis servilis Wlk. Laelia adara Mr. Laelia devestita Wlk. Laelia suffusa Walk. Leucoma (Redoa) submarginata Walk, Leucoma gigantea Leucoma virguncula Wlk. Lymantria bruneiplaga Swinh. Lymantria beatrix Lymantria ganaha Swinh Lymantria ganaha Moore Minor sp. Orgyia postica (Wlk, 1855) Porthesia niguncula Wlk Porthetria sp. Prothesia virguncula Wlk. Rosella  Rosella, Camellia sinensis Padi Citrus , Derris Hibiscus Derris Gossypium hirsutum, Camellia sinensis Derris Padi Albizzia procera Padi Padi Leucaena glauca Derris Derris , Aleurotis Kelapa, daun harendong Putat Putat Cacao, Derris, Oxalis, Kemang Putat – Zingiberaceae Citrus Ficus Derris Kina – Derris Kiray Tebu Padi Kayu manis Balsa Balsa Mangga Jambu biji Jagung Mangga, dadap , bayam, Derris, Daun Jarak Kapuk muda Derris Akasia Bogor  Bogor Bogor Bogor Bogor Sindanglaya Bogor Sindnglaya, Citayam Bogor Bogor Bogor Bogor Pacet dan Padang Bogor Bogor Bogor Semarang Semarang Bogor Semarang Semarang Semarang Semarang Bogor Deli Cingiruan – Deli Ciruas (Serang) Tapos Bogor Bogor Subang Bogor Bogor Bogor Bogor Bogor Bogor Bogor Bogor Bogor Bogor

Fungsi Bioteknologi dalam Validasi Spesies

Setiap spesies serangga memiliki kekhasan dan ciri morfologis tersendiri yang bisa dijadikan sebagai acuan dalam identifikasi. Namun tidak jarang ciri atau tampilan luar dari serangga yang berbeda spesies memiliki kemiripan yang tinggi sehingga sulit dibedakan. Bisa jadi juga satu jenis serangga memiliki penampilan yang berbeda disebabkan oleh perbedaan lingkungannya. Pada kondisi semacam ini identifikasi spesies serangga memerlukan penelitian lebih jauh daripada hanya sekedar pengamatan ciri morfologis. Salah satu cara mutakhir dalam menentukan identitas serangga adalah dengan melihat materi genetiknya. Materi genetik suatu organisme atau serangga yang berupa DNA merupakan “¬Å“cetak biru”¬  atau sidik jari dari spesies itu. Ia sangat khas bagi setiap organisme dan berisi informasi genetik yang mengkode atau menyandikan semua ciri morfologis dan fisiologis dari suatu serangga. Para ilmuwan telah mengidentifikasi bagian-bagian dari DNA suatu serangga yang dapat dijadikan sebagai semacam kartu identitas dari sang serangga. Misalnya, satu bagian dari DNA mitokondria serangga yang menyandikan subunit I dari enzim Cytochrome c oxidase  yang disebut gen COI dimiliki oleh seluruh serangga namun memiliki perbedaan urutan basa DNA pada setiap spesies. Dengan demikian, orang dapat membaca urutan DNA gen COI pada satu sampel serangga dan membandingkannya dengan database urutan DNA dari serangga lain yang telah teridentifikasi (101.269 spesies telah terdeskripsikan pada database Barcode of Life Data System – www.boldsystems.org). Jika ada kesamaan maka dapat ditentukan nama spesies dari serangga tersebut dengan pasti. Jika tidak ada kesamaan, maka kerabat terdekat dari serangga tersebut dapat diketahui dari urutan DNA yang paling mirip dengan urutan DNA serangga yang diidentifikasi. Pada kasus wabah ulut bulu ini, teknik identifikasi molekuler seperti diatas dapat diterapkan untuk mengetahui identitas ulat bulu dalam waktu relatif singkat. Dalam prakteknya identifikasi molekuler ini meliputi beberapa kegiatan seperti: ekstraksi atau pengambilan DNA dari sampel ulat bula, PCR atau penggandaan bagian dari gen COI, dan sekuensing atau pembacaan urutan fragment gen COI hasil PCR. Teknik identifikasi serupa dapat juga diarahkan kepada organisme-organisme lain yang berinteraksi dengan ulat bulu. Kapang atau bakteri yang menjadi musuh alami sang ulat bulu misalnya, dapat juga diidentifikasi dengan teknik molekuler semacam ini. Dengan membaca urutan DNA pada gen-gen yang sesuai, akan dapat diketahui spesies yang berpotensi menjadi pengontrol perkembangbiakan ulat bulu. Bahkan dengan teknik PCR dan sekuensing DNA mutakhir, pengidentifikasian jasad renik yang berinteraksi dengan ulat bulu dapat dilakukan tanpa harus mengisolasi atau menumbuhkan bakteri atau kapang tersebut di laboratorium. Dari paparan di atas dapat dilihat bagaimana Koleksi Referensi Spesimen Serangga dan teknik bioteknologi dapat membantu menyediakan  tambahan informasi yang mendalam dan persis untuk mengurai permasalahan yang ditimbulkan oleh wabah ulat bulu dan strategi penanganannya.
Badan Litbang Bioteknologi & Sumberdaya Genetik Pertanian, Kampus Penelitian Pertanian, Cimanggu, Kota Bogor

BB Biogen

Badan Litbang Bioteknologi & Sumberdaya Genetik Pertanian, Kampus Penelitian Pertanian, Cimanggu, Kota Bogor

wso shell indoXploit shell wso shell hacklink hacklink satışı hacklink satış deface mirror wso shell