Temu Koordinasi Peneliti, Perekayasa dan Penyuluh Regional Medan

Pembukaan regional meeting oleh Ka.Badan Litbang
Pembukaan regional meeting oleh Ka.Badan Litbang
Temu koordinasi peneliti, perekayasa dan penyuluh dilaksanakan di Hotel Grand Elite Medan pada tanggal 21-23 Februari 2013, merupakan pertemuan koordinasi regional ketiga, setelah pertemuan sebelumnya telah dilaksanakan di Makasar dan Surabaya. Tema yang diangkat adalah “Konsolidasi manajemen Litkajibang-luh-rap Mempercepat Operasionalisasi program Terobosan Inovasi Pertanian” dengan mengangkat topik utama mengenai komoditas hortikultura. Tujuan dari pertemuan ini adalah:
  • Melakukan review dan membahas status terkini (state of the art) litkajibang-luh-rap, 2010-2012 dalam mendukung empat target sukses kementan.
  • Memformulasikan revitalisasi manajemen litkajibang-luh-rap berbasis Manajemen Korporasi (Corporate Management).
  • Melakukan pembahasan penuntasan program litkajibang-luh-rap 2013-2014,sebagai antisipasi dinamika pembangunan pertanian.
Pertemuan ini dihadiri oleh Kepala Badan Litbang Pertanian, Ketua Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, narasumber dari FKPR, peneliti senior serta sekitar 365 peserta yang terdiri atas peneliti, penyuluh dan perekayasa lingkup Badan Litbang Pertanian. Keluaran yang diharapkan dari penyelenggaraan Temu Koordinasi peneliti, Perekayasa dan Penyuluh lingkup Badan Litbang Pertanian ini adalah:
  1. Status terkini (state of the art) litkajibang-luh-rap 2010-2012 dalam penuntasan kinerja litbang 2010-2014 mendukung empat target sukses kementan.
  2. Formulasi revitalisasi manajemen litkajibang-luh-rap berbasis Manajemen Korporasi (Corporate Management).
  3. Rencana program litkajibang-luh-rap 2013-2014 sebagai antisipasi dinamika pembangunan pertanian.
Dari hasil pertemuan koordinasi ini, dihasilkan beberapa butir kesepakatan yang dirumuskan sebagai berikut:
  1. Rangkaian pertemuan regional antara peneliti, perekayasa dan penyuluh (Litsaluh) lingkup Badan Litbang Pertanian  ditujukan untuk melakukan review dan membahas status terkini (state of the art) litkajibang-luh-rap 2010-2012; memformulasikan revitalisasi manajemen litkajibangluhrap berbasis manajemen korporasi; dan melakukan pembahasan penuntasan program litkajibangluhrap 2013 – 2014 sebagai antisipasi dinamika pembangunan pertanian.
  2. Keadaan hubungan negara kita dengan negara-negara maju selama 3 (tiga) tahun terakhir meningkat karena Indonesia merupakan market potensial, kaya sumber daya hayati (biodiversity), dan jalur perdagangan internasional. Hal ini perlu diantisipasi agar Indonesia tidak menjadi negara konsumen yang potensial bagi negara lain terutama negara negara maju. Selama ini sudah dirasakan bahwa nilai konsumsi di negara kita Indonesia terus meningkat pesat yang tidak sejalan dengan meningkatnya produktivitas teknologi kita.
  3. Mengamati potensi dan prospek Balitbang dalam pola “Sigmoid Curve Capacity Building Badan Litbang Pertanian” agar target pertumbuhan second curve yang spektakuler tercapai perlu memberdayakan pulling power positif dan menekan pulling power negatif. Kita harus mengembangkan pulling power positif dengan perbaikan infrastruktur lunak dan keras, pemberdayaan SDM, peningkatan budaya ilmiah, pembentukan embrio klaster agribinis, mengintensifkan program unggulan yang strategis dan berdampak positif yang luas, seperti KRPL dsb. sesuai dengan kisi-kisi Empat Sukses Kementerian Pertanian, namun dengan menyiasati faktor-faktor yang bisa menjadi pulling power negatif antara lain sistem penjenjangan fungsional yang belum proporsional, anggaran berbasis kinerja tetapi bertumpu pada unit kerja, ketentuan mengenai PNBP tentang royalti bagi inventor, dan rasa nyaman yang ditimbulkan dari perbaikan kesejahteraan dan kemudahan memperoleh anggaran penelitian. Peningkatan budaya ilmiah yang dicerminkan melalui kualitas RPTP/RDHP, intensitas dan kualitas seminar serta karya tulis ilmiah dilakukan dengan mengefektifkan pembinaan, pelatihan, sistem koordinasi dan monev berjenjang mulai dari tingkat UPT sampai dengan Badan Litbang. Penilaian fungsional peneliti BPTP diupayakan dibedakan dengan peneliti Balit. Hal ini sedang diupayakan LIPI, tetapi belum dapat dipastikan hasilnya. Disarankan dilakukan penjajakan untuk menetapkan rumpun fungsional pengkaji.
  4. Pengaturan impor produk hortikultura yang dilakukan pemerintah pusat dan daerah sangat baik untuk memberikan waktu kepada produsen hortikultura untuk meningkatkan kualitas dan kuantitasnya, dan menghambat terjadinya kepunahan sumber genetik tanaman hortikultura di Indonesia. Selain aturan pemerintah, sebaiknya melibatkan juga para pelaku agribisnis nasional yang membuat pedoman tentang impor hortikultura, dan meningkatkan daya saing produk melalui aplikasi teknologi inovatif.
  5. Untuk mengoptimalkan adopsi teknologi inovasi oleh pengguna (petani dan pelaku usaha lainnya), para peneliti dan perekayasa dapat mengisi kegiatan forum diskusi para penyuluh dan penyuluhan di tingkat pusat dan daerah, serta menghidupkan kembali metode research extension linkages (REL) sehingga para penyuluh  akan dengan mudah menyebarkan teknologi inovasi itu. Badan Litbang Pertanian  perlu memprioritaskan peningkatan jumlah dan kualitas penyuluh di BPTP serta mendorong sinergi para penyuluh itu dengan kegiatan penyuluhan di daerah dan pusat. Perlu disiapkan suatu forum komunikasi seperti focus group discussion (FGD) untuk mengetahui kegiatan-kegiatan yang akan dilaksanakan oleh BPTP, Balit dan BB sehingga kebutuhan BPTP dan masyarakat lokal dapat diinventarisir untuk mensinergikan kegiatan penelitian dan diseminasi. Selain itu perlu mempertimbangkan kearifan lokal. Misalnya  pemanfaatan dan pemasyarakatan pupuk hayati yang dihasilkan oleh Badan Litbang melalui uji lapang/verifikasi di lapangan oleh BPTP dan pengembangannya dilakukan melalui konsorsium pupuk hayati unggulan nasional.  Balit dan BPTP perlu meningkatkan sinkronisasi dan koordinasi pelaksanaan diseminasi. BPTP dapat berfungsi sebagai percontohan teknologi yang dilengkapi dengan kesiapan logistik. Pengembangan varietas lokal yang dilakukan Balit perlu didukung oleh BPTP dalam pembinaan penangkar benihnya.
  6. Badan Litbang Pertanian perlu membentuk forum interaksi antara kelompok fungsional (peneliti, perekayasa, penyuluh) dengan dunia usaha dan berbagai institusi pelayanan lainnya sebagai implementasi konsep P4 (pelaku usaha, perusahaan penghela, pakar, dan penyedia pelayanan yaitu pemerintah dan lembaga lainnya) dengan menginisiasi pembentukan model klaster agribisnis berbasis kawasan dengan inovasi sebagai penghela.
  7. Hasil penelitian dan pengembangan teknologi pascapanen/pengolahan untuk komoditas pangan dan hortikultura terpilih spesifik lokasi dengan dukungan teknologi mekanisasi sudah banyak tersedia, namun inovasinya dirasa masih lambat. Model litkajibangluhrap teknologi pascapanen- mekanisasi-pengkajian di wilayah Indonesia Barat lebih ditekankan pada peningkatan nilai tambah dan daya saing produk baik pangan maupun hortikultura. Hal ini penting untuk mendorong ekspor serta menekan impor melalui daya saing produk.
  8. Terkait dengan target swasembada komoditas prioritas, invovasi teknologi SITT beserta alsinnya (mesin untuk pakan, mesin untuk pengolahan pupuk organik dan biogas) spesifik lokasi sangat diperlukan. Inovasi teknologi pascapanen dan mekanisasi  sangat relevan dikembangkan untuk mengatasi kelangkaan tenaga kerja dan menurunkan susut hasil panen.
  9. Strategi Litkajibangrap Hortikultura 2013-2014 perlu menata ulang fokus dan mensinergikan program-program, sumberdaya dan anggarannya mendukung pencapaian program strategis Kementerian Pertanian dalam peningkatan ekspor dan pengurangan impor, peningkatan nilai tambah, diversifikasi pangan dan peningkatan pendapatan petani, yaitu : (a) Fokus litkajibangluhrap yang berorientasi untuk menghasilkan konsep dan model pengembangan industri dan pabrikasi produk profit minded, (b) melakukan harmonisasi litbang hortikultura dengan UPT terkait bidang pengelolaan plasma nutfah dan perakitan teknologi dengan target output yang jelas sesuai kebutuhan pengguna (varietas, perbenihan dll.).
  10. Badan Litbang Pertanian perlu mengambil peran yang lebih signifikan dalam mengawal implementasi UU No. 13 tahun 2010 tentang Hortikultura, dan UU No. 16 tahun 2006 tentang  penyuluhan pertanian, perikanan dan kehutanan. Mengawal blueprint hortikultura dan mengkoordinasikan komponen pakar pada pengembangan klaster agribisnis.
  11. Penguatan jejaring litkajibangluhrap bidang hortikultura ditujukan pada peningkatan dan percepatan penerapan inovasi menuju peningkatan dampak output model pengembangan kluster komoditas hortikultura. Implementasi program didasarkan pada semangat kebersamaan, keterikatan yang erat secara substansi dan sinergi yang kuat untuk percepatan diseminasi teknologi. Kegiatan tersebut perlu dikoordinasikan dan bersinergi dengan Dirjen teknis/Dinas/Pemda.  Untuk penguatan logistik (produk dan teknologi) hortikultura dilakukan dengan meningkatkan kerjasama dalam hal produksi dan distribusi benih hortikultura antara Balit dan BPTP terkait, sedangkan penguatan jejaring Litsaluh dilakukan dengan meningkatkan interaksinya dalam kegiatan padu padan, temu litsaluh, dan komunikasi personal.
Sidang pleno
wso shell indoXploit shell wso shell hacklink hacklink satışı hacklink satış deface mirror wso shell