Potensi SDG Lokal Kacang Koro

Kacang koro disinyalir berasal dari benua Asia dan Afrika. Pada mulanya kacang ini secara besar-besaran ditanam di wilayah Asia Selatan dan Tenggara Burma, Indo-China, Sri Lanka, India). Namun demikian, saat ini kacang koro telah ternaturalisasi dan kini dapat dengan mudah dijumpai di banyak wilayah di Indonesia. Tanaman kacang koro merupakan tanaman pemanjat tahunan di mana proses pertumbuhannya tidak memakan waktu lama dan dilengkapi dengan batang kayu dengan panjang maksimal 10 meter.

Kacang koro berdaun tiga dengan bentuk membundar seperti telur, lancip dan memiliki bulu halus jarang pada kedua sisinya. Adapun bunganya serupa tandan di ketiak dan terkeluk balik dengan warna putih. Sementara itu buahnya berupa polongan dengan bentuk lonjong pita, ujungnya cenderung lebar dan dalam kondisi tertentu melengkung. Biji dalam polongan kacang koro memiliki bentuk lonjong dengan warna variatif yakni merah muda, merah, merah kecoklatan dan bahkan hitam pekat.

Namun dalam kondisi tertentu, warna biji ini tak jarang dijumpai yang berwarna putih bersih. Polong koro muda dan belum matang dimasak dan dimakan seperti kacang hijau. Beberapa orang suka mencampur kacang koro dengan kacang jenis lainnya atau sayuran hijau. Daun muda dimakan mentah pada salad dan daun lebih tua dimasak seperti bayam. Bunganya dimakan mentah atau diuap. Umbi besar dapat dikukus atau dipanggang. Biji yang belum matang dapat dikukus dan dimakan seperti kerang. Biji kering harus dikukus dalam dua pergantian air sebelum dimakan karena mengandung cyanogenic glucosides.

Di Indonesia dikenal 3 jenis kacang koro yang populer dikonsumsi dan dimanfaatkan, yaitu: Canavalia gladiata atau kacang koro pedang, Mucuna prurien atau kacang koro benguk, dan kacang koro kecipir atau Psophocarpus tetragonolobus. Ketiga bahan baku ini lazim digunakan dalam berbagai bidang termasuk sebagai salah satu alternatif pengganti kedelai dalam pembuatan tempe dan juga tahu. Kacang koro memiliki beberapa nama lokal: Koro Bedog, Koro Bedug, Koro loke, Koro Bendo, Koro Krandang, Koro Pedang (Jawa). Koro Ortel, Koro Wedung, Rakara Bedung, Maliki (Madura), Kacang Koro Kayu (Sumatera), dan Koro Batik (Lombok).

kckoro
SDG kacang koro
Di antara spesies atau jenis kacang koro, jenis Canavalia gladiata atau kacang koro pedang yang paling banyak digunakan dan dimanfaatkan. Hal ini dikarenakan kandungan gizi-nya yang jauh lebih lengkap dan khusus di Indonesia, jenis kacang koro inilah yang paling mudah ditemukan. Kacang koro memiliki kandungan protein 30,36% setara dengan kedelai.Kacang koro kering memiliki kandungan karbohidtrat 66%, lemak 2,6% . Kacang koro banyak mengandung asam folfat sebanyak 358mcg sehingga kacang koro memiliki potensi untuk dapat menggantikan kedelai sebagai tempe atau tahu.

Kacang koro cukup potensial dikembangkan mengingat sumber gizi yang ada dapat bermanfaat bagi kesehatan tubuh, misalnya: dapat menurunkan kadar gula darah penderita diabetes, menjaga ketahanan tubuh, serta menghindari penyakit jantung. Selain itu diketahui pula dapat membantu tubuh yang kekurangan zat dan penyakit kencing manis. Keputihan, kolosterol dalam darah. Di samping untuk mendukung kesehatan, secara ekologi tanaman koro juga berguna dalam konservasi lahan.

Sebagai jenis tanaman leguminosa, perakarannya dapat mengikat unsur nitrogen dari udara sehingga dapat memperbaiki tingkat kesuburan tanah. Badan Litbang Pertanian (Balitbangtan) melalui Bank gen BB Biogen memiliki koleksi SDG kacang koro, yang meliputi: kacang koro benguk (9 aksesi), kacang koro pedang (7 aksesi) dan kacang kecipir (88 aksesi). Koleksi SDG ini merupakan sumber gen potensial untuk dapat dimanfaatkan dalam program pemuliaan dan mendukung ketahanan pangan.