Penandatangan MoU Kerja Sama Pengembangan Toolkit Deteksi Dini Sapi Kembar

Perhatian dan upaya memberikan dukungan program pemerintah untuk meningkatkan populasi sapi nasional dalam mewujudkan swasembada daging telah melahirkan kesepakatan antara Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Bioteknologi dan Sumberdaya Genetik Pertanian (BB Biogen) dengan Dinas Peternakan dan Kesehatan  Hewan (Disnak Keswan) Provinsi Jawa Tengah untuk Pengembangan toolkit  deteksi dini  sapi kembar. Untuk meningkatkan populasi sapi, pemerintah melalui Kementerian Pertanian melakukan upaya khusus (Upsus) yang dikenal dengan nama Upsus SIWAB (sapi indukan wajib bunting). Upsus SIWAB dilaksanakan untuk optimalisasi fungsi reproduksi ternak betina dengan tujuan meningkatkan populasi dan produksi ternak ruminansia besar. Pelaksanaan programnya adalah dengan melakukan inseminasi buatan secara massif pada sapi betina produktif di 33 provinsi di Indonesia. Saat ini ada sekitar 5,62 juta sapi dan kerbau betina dewasa yang terdata, dan 4,03 juta ekor diantaranya merupakan betina produktif yang akan diinseminasi dengan target kehamilan minimal 75 persen atau 2,7 juta kelahiran baru.
Pada tahun 2016, populasi sapi nasional baru mencapai 15,2 juta ekor dengan laju pertumbuhan populasi sapi sekitar 3,1% per tahun selama 5 tahun terakhir (2010-2015). Untuk merealisasikan target swasembada daging pada tahun 2026, populasi sapi nasional harus mencapai 33,9 juta ekor. Ini adalah target populasi sapi yang sangat besar yang akan sulit terealisasi jika pertumbuhan populasi sapi hanya 3,1% per tahun. Upsus SIWAB merupakan program terobosan untuk mendongkrak laju pertumbuhan populasi sapi. Upaya ini tentunya akan lebih cepat terealisasi jika tersedia indukan sapi (jantan dan betina) yang mampu melahirkan kembar. Hal ini yang menjadi dasar pemikiran kepala BB Biogen dan Kepala Disnak  Keswan, Provinsi Jateng, untuk melakukan penandatangan kerja sama kemitraan pengembangan toolkit  deteksi dini  sapi kembar pada tanggal 14 Juli 2017 di Hotel OXALIS pada event Workshop dan Sosialisasi Kegiatan Pengembangan Populasi Ternak dalam mendukung UPSUS SIWAB. Memorandum of understanding (MoU) ditandatangani oleh Kepala BB Biogen, Ir. Mastur, M.Si., Ph.D. sebagai pihak I dan Kepala Disnak Keswan, Provinsi Jateng, Ir. Agus Wariyanto, S.IP, MM sebagai pihak II.
Ruang lingkup perjanjian kerja sama kemitraan ini meliputi: 1) Pengembangan kit marka molekuler deteks sapi kembar, 2) Pemanfaatan/pendayagunaan hasil penelitian, dan 3) Pendampingan dan pengawalan teknis implementasi kit marka molekuler deteksi sapi kembar di bidang peternakan kesehatan hewan di Provinsi Jawa Tengah. Pelaksanaan kegiatan kerja sama ini mendapatkan pendanaan dari program Kerja sama Penelitian, Pengkajian dan Pengembangan Pertanian Strategis (KP4S) Badan Litbang Pertanian (Balitbangtan). BB Biogen sebagai lembaga riset unggul di bidang bioteknologi akan melakukan analisis molekuler biomarker spesifik karakter sapi kembar. Sampel darah/DNA sapi kembar dikoleksi dari sapi-sapi kembar baik indukan maupun anakan yang ada pada populasi sapi di Jawa Tengah. Jawa Tengah adalah salah satu provinsi yang memberikan laporan tertinggi kasus kelahiran kembar pada populasi sapi yang telah dilakukan perkawinan, baik inseminasi buatan maupun alami. Saat ini program peningkatan sapi dengan kelahiran kembar juga dipacu melalui transfer embrio. Sudah ada 62 individu sapi kembar yang telah diambil darahnya, dan jumlah itu akan terus meningkat dengan samakin banyaknya laporan kasus kembar di beberapa kabupaten di Jawa Tengah yang menjadi sentra produksi sapi, seperti Jepara, Blora, Kudus, Grobogan, Sragen, Klaten, Boyolali, Kebumen, Banjarnegara, dan Purworejo.
Rencana kegiatan dan kesepakatan kerja sama ini telah disampaikan dalam kegiatan workshop dan sosialisasi SIWAB di Hotel OXALIS. Pada kesempatan tersebut juga disampaikan bahwa penelitian sapi kembar pernah dilakukan oleh BB Biogen pada tahun 2010. Tetapi karena kekurangan sampel untuk karakterisasi molekuler terkait karakter kembar maka penelitian tersebut tidak berhasil mendapatkan capaian yang diharapkan. Heritabilitas karakter sapi kembar sangat rendah, yaitu hanya 1-3%. Dengan heritabilitas yang sangat rendah ini, identifikasi sifat kembar akan sangat sulit dilakukan melalui seleksi konvensional. Pendekatan bioteknologi melalui analisis molekuler atau DNA adalah metode tepat untuk identifikasi sifat kembar pada sapi, tetapi harus didukung dengan sampel DNA yang mewakili (mencukupi). Terkait dengan hal tersebut, peserta workshop dan sosialisasi yang kebanyakannya adalah para peternak dan pendamping inseminator sangat antusias untuk mendukung kerja sama ini dan bersedia memberikan informasi kasus kembar di wilayah mereka. Oleh karena itu, hasil dari kerja sama ini sangat ditunggu dan diharapkan oleh petani ternak untuk meningkatkan  populasi sapi mereka secara cepat sehingga kesejahteraan petani dapat diwujudkan. (Dilaporkan oleh Puji Lestari dan Tri Puji Priyatno).