Koleksi SDG Padi Ladang di Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur

Sumber Daya Genetik (SDG) padi ladang (padi lahan kering; sering disebut sebagai padi gogo) saat ini sudah mulai jarang dibudidayakan oleh petani. Beberapa faktor penyebabnya adalah: umur panen yang sangat panjang (biasanya sekitar 4-5 bulan), produktivitas yang rendah, serta habitus tanaman yang tinggi sehingga mudah patah dan rebah. Di samping umur panen yang panjang, kultivar-kultivar padi ladang tersebut biasanya dibudidayakan beriringan dengan datangnya musim hujan. Dengan demikian dalam setahun petani hanya bisa membudidayakannya sekali dalam setahun. Beberapa petani tradisional masih bertahan membudidayakan kutivar-kultivar tertentu padi ladang karena kesukaan terhadap aroma dan rasa nasi. Selain itu, beberapa kultivar dibudidayakan dalam kaitannya dengan kepercayaan dan adat istiadat setempat.
Semakin jarangnya petani yang membudidayakan kultivar-kultivar padi ladang tersebut, mengakibatkan makin rawannya keberadaan SDG kultivar lokal tersebut dari kepunahan. Oleh karena itu, kegiatan koleksi perlu dilakukan untuk mengumpulkan dan menyelamatkan SDG padi ladang tersebut.
Kegiatan koleksi SDG padi gogo telah dilakukan dalam rangka kegiatan penelitian KP4S, dengan target survey di daerah dalam wilayah kabupaten Manggarai, Manggarai Barat, Manggarai Timur dan Ngada. Kultivar-kultivar lokal padi gogo di pulau Flores sudah mulai jarang dibudidayakan oleh petani. Kultivar-kultivar tersebut hanya dibudidayakan di lahan ladang pada daerah pegunungan. Oleh karena itu, target kegiatan koleksi ini diarahkan pada wilayah pegunungan tersebut. Lokasi target koleksi cukup memakan waktu untuk mencapainya mengingat medan jalan yang terletak di sepanjang tepian tebing pegunungan. Terkadang harus masuk ke jalan menuju kampung di atas bukit untuk mendapatkan aksesi-aksesi yang dicari, berdasarkan keterangan masyarakat setempat.
Pencarian aksesi dilakukan melalui kegiatan survey lapang, setelah terlebih dahulu berkoordinasi dengan staf BPTP Provinsi Nusa Tenggara Timur, Dinas Pertanian setempat serta beberapa petugas penyuluh lapang setempat yang berhasil dihubungi untuk menghimpun informasi mengenai keberadaan aksesi-aksesi padi gogo lokal. Metode sampling dilakukan secara puposive.
Pertanaman padi gogo di ladang dataran tinggi (Desa Peot, Kecamatan Borong, Kabupaten Manggarai Timur).
Wawancara dengan salah satu petani di Desa Riung, Kecamatan Cibal, Kabupaten Manggarai
Dari kegiatan koleksi ini telah berhasil dikumpulkan sebanyak 27 aksesi padi gogo lokal. Pada beberapa lokasi dan sumber koleksi yang berbeda, ditemukan beberapa aksesi yang memiliki nama yang sama, seperti: Woja 100 Hari, Woja Laka Galung, Kosu Mite dan Woja Laka Rakot (masing-masing 2 aksesi), serta Ampera dan Kartuna (masing-masing 3 aksesi). Karakterisasi terhadap aksesi-aksesi tersebut nantinya diperlukan untuk memastikan apakah aksesi-aksesi tersebut adalah aksesi-aksesi yang sama atau berbeda.
Selain aksesi-aksesi padi gogo, dikoleksi pula beberapa aksesi tanaman pangan lahan kering, yaitu sorgum (4 aksesi), jali (1 aksesi) dan jewawut (1 aksesi).