Agricultural Biotechnologies in Sustainable Food Systems and Nutrition in Asia-Pacific

Organisasi pangan dan pertanian dunia, FAO (Food and Agriculture Organization) mengadakan pertemuan regional yang membahas mengenai pemanfaatan bioteknologi pertanian dalam upaya peningkatan pangan dan gizi di wilayah Asia Pasifik. Pertemuan ini diadakan di Kuala Lumpur, Malaysia pada tanggal 11-13 September 2017. Pertemuan ini dihadiri oleh perwakilan dari pemerintahan, institusi penelitian, akademisi, perusahaan swasta termasuk produsen pangan dan masyarakat sipil termasuk petani. Perwakilan dari Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Bioteknologi dan Sumber Daya Genetik adalah Prof. (Riset) Dr. Bahagiawati Amirhusin, Dr. Dwinita W. Utami dan Dr. Toto Hadiarto.

Dalam pertemuan ini, terdapat sebanyak sembilan sesi plenari dan enam sesi paralel. Pembukaan yang merupakan sesi plenari pertama dilakukan oleh Kundhavi Kadiresan sebagai Assistant Director-General dan  Regional representative untuk Asia dan Pasifik, FAO Regional Office for Asia and the Pacific, Bangkok, Thailand, dan Ybhg Datuk Seri Dr. Mohd Azhar Haji Yahaya selaku Secretary General, Ministry of Science, Technology and Innovation, Malaysia. Pembukaan diawali dengan penekanan mengenai perlunya meningkatkan produksi pangan yang berkelanjutan karena adanya kemungkinan kenaikan jumlah penduduk dunia yang sangat pesat, dan dilanjutkan dengan adanya permasalahan lain seperti perubahan iklim yang mengakibatkan kekeringan dan banjir serta permasalahan mengenai hama dan penyakit tanaman yang menurunkan produksi pangan. Di sinilah bioteknologi memiliki peran untuk Pada pembukaan ini dijelaskan mengenai tujuan diadakannya pertemuan regional ini, yang merupakan kelanjutan dari pertemuan pada 15-17 Februari 2016 di Roma, Italy. Pada pertemuan tahun lalu tersebut, ditekankan bahwa peran bioteknologi pertanian perlu dilakukan secara lebih detail dengan memperhatikan keunikan wilayah masing-masing.

Diskusi pada sesi keynote speak.
Para peserta pertemuan.

Pada plenari sesi kedua terdapat empat bahasan dalam keynote, hal-hal yang dianggap menjadi sasaran penting dalam pertemuan ini. Mereka adalah “The role of biotechnologies in Malaysia’s bioeconomy” yang disampaikan oleh Zakri Abdul Hamid (Science advisor to the Prime Minister, Kuala Lumpur, Malaysia), “Opportunities for research to help smallholders engage with biotechnology” oleh Margaret Gill (Kepala CGIAR Independent Science and Partnership Cuncil, Roma, Italia), “Policies and programmes regarding agricultural biotechnologies in Cambodia” oleh Om Kimsir (Secretary of State, Ministry of Agriculture, Forestry and Fisheries, Kamboja), dan “Policies and programmes regarding agricultural biotechnologies in Cook islands” oleh Teariki Matairangi Purea (Secretary of the Ministry of Agriculture, Cook Islands).

Pada sesi tersebut perwakilan dari Malaysia menjelaskan mengenai sistem bioekonomi yang mereka kembangkan. Kemudian, pemahaman mengenai bioteknologi dijelaskan oleh Margareth Gill. Bioteknologi (dalam pengertian yang luas) bukan merupakan hal yang baru karena sudah diterapkan oleh petani di masa lampau dari mulai perbaikan tanaman dengan teknologi yang sederhana. Teknologi ini kemudian berkembang  pada era pemanfaatan gen/DNA hingga sistem genomics dan gene editing. Pembahasan kemudian dilanjutkan pada program dan kebijakan bioteknologi pertanian di dua negara yaitu Kamboja dan Cook Islands.

Plenari sesi ketiga membahas mengenai “The status and challenges regarding agricultural biotechnologies in Asia-Pacific”. Diawali dengan analisis umum dalam presentasi “The status of application, capacities and the enabling environment for agricultural biotechnologies in the Asia-Pacific region: presentation of some preliminary findings” oleh Ravi Srinivas Krishna (Research and Informaion System for Developing Countries, New Delhi, India).

Sesi plenari keempat: Improving nutrition using the biotechnology toolbox. Sebagian besar dari wilayah Asia Pasifik masih mengalami kekurangan gizi atau disebut dengan hidden hunger dan juga kelaparan. Teknologi, terutama bioteknologi, telah memberikan kontribusi dan akan terus digunaan sebagai alat untuk melawan kekurangan gizi dan kelaparan.

Sesi plenari kelima: The role of biotechnologies in climate-smart agriculture and bioeconomy. Pada sesi The role of biotechnologies in climate-smart agriculture and bioeconomy dibahas mengenai pemanfaatan bioteknolgi dalam sistem climate-smart agriculture (CSA) dan bioekonomi. CSA merupakan sebuah pendekatan yang membantu tindakan untuk mengubah dan mengarahkan kembali sistem pertanian yang mendukung pembangunan dan menjamin ketahanan pangan dalam perubahan iklim. CSA bertujuan untuk mengatasi tiga hal utama, yaitu: meningkatkan produktivitas dan pendapatan pertanian secara berkelanjutan; menyesuaikan dan membangun ketahanan terhadap perubahan iklim; dan mengurangi dan / atau menghapus emisi gas rumah kaca, jika memungkinkan.

Pada sesi plenari keenam (South-South cooperation), terdapat tiga negara yang mewakili kerjasama South-South ini, mereka adalah Chinese Academy of Agricultural Sciences Beijing (China), Asian Food and Agriculture Cooperation initiative (Korea Selatan) dan Japan International Research Center for Agricultural Science (Jepang). Sesi plenari ketujuh: Reporting of outcomes from parallel and plenary sessions (laporan terhadap keluaran dari masing-masing sidang). The way ahead (sesi plenari kedelapan).

Pada sesi ini pembicara menyimpulkan hal-hal yang dianggap sangat penting selama diskusi dari semua sidang plenari dan sidang paralel (refleksi personal) dan juga memberikan pesan untuk melakukan aksi ke depan. Poin penting yang disampaikan antara lain:
  1. -Wilayah yang beragam dari kepulauan kecil di Pasifik sampai dengan benua Asia (China), sehingga terdapat pula keberagaman sumberdaya genetik yang perlu dijaga.
  2. Konten bioteknologi yang bervariasi dalam praktek/penerapan untuk peningkatan gizi dan pangan. Pemilihan dan pemanfaatan teknik-teknik bioteknologi yang berbeda-beda dapat membantu meningkatkan produk pangan.
  3. Adanya keberagaman penilaian petani terhadap produk bioteknologi. Petani modern tidak begitu mengkhawatirkan penggunaan produk transgenik karena sudah melewati regulasi yang ketat di tingkat pemerintah.
  4. Bioteknologi yang membantu meningkatkan kesejahteraan petani perlu dilindungi penggunaan dan aplikasinya.
  5. Perlunya kerjasama antar wilayah baik di tingkat nasional maupun internasional untuk pengembangan bioteknologi dan peningkatan kapasitas stakeholder dengan adanya bantuan teknis dalam kerjasama dan pelatihan.
  6. Produk bioteknologi perlu dimonitor.
  7. Kerjasama pembuatan bank gen untuk penyimpanan plasma nutfah dan menjaga kelestariannya.
  8. Pengumpulan data dan monitoring untuk menjaga berbagai produk bioteknologi. Termasuk didalamnya antara lain sharing, storage, udating, performance dan ilmu teknis lainnya.
Pertemuan regional ini ditutup dengan sambutan oleh pejabat dari kantor Perdana Mentri Malaysia, Zakri Abdul Hamid dan dari FAO Regional Office untuk Asia Pasific, Xiangjun Yao.