Workshop Kedua Kegiatan ‘Co-development and Transfer of Rice Technologies’

Upaya peningkatan produksi dan produktivitas padi di Asia Tenggara menghadapi tantangan dampak buruk perubahan iklim. Di sisi yang lain, varietas lokal dari banyak negara di Asia Tenggara mungkin mengandung gen yang penting untyang dapat dimanfaatkan untuk mengembangkan varietas yang dapat beradaptasi dengan perubahan iklim. Namun demikian meskipun varietas lokal tersebut dapat beradaptasi dengan baik dan toleransi terhadap tekanan biotik dan / atau abiotik tertentu, produktivitas mereka relatif rendah dibandingkan varietas unggul / modern. Proyek kegiatan kerjasama Co-Development and Transfer of Rice Technologies memfasilitasi kolaborasi antar institusi di negara-negara Asia Tenggara dalam konservasi dan penggunaan varietas lokal secara berkelanjutan untuk menghadapi tantangan perubahan iklim dan ketahanan pangan.
Workshop kedua kegiatan kerjasama Co-Development and Transfer of Rice Technologies dilangsungkan di Philippine Rice Research Institute (PhilRice), Maligaya, Science City of Muñoz, Nueva Ecija pada tanggal 6-8 Oktober 2017. Workshop dihadiri oleh peserta dari negara-negara anggota yang terdiri dari BB Biogen (Indonesia), MARDI (Malaysia), NAFRI (Lao-PDR), dan PhilRice (Filipina).
Sebagian peserta wprkshop dari Lao-PDR (kiri), Malaysia (nomor 2 dan 3) dan Indonesia (nomor 4 dan 5).
Ir. Mastur, M.Si. – Kepala BB Biogen (kiri) dan Eduardo Jimmy P. Quilang – Deputy Executive Director of PhilRice (kanan) saat memberikan sambutan pembukaan workshop.
Sebagian peserta workshop dari negara-negara anggota.
Sebagian peserta workshop dari negara-negara anggota.
Sebagian peserta workshop dari negara-negara anggota.
Workshop tersebut diselenggarakan dengan tujuan untuk melakukan evaluasi perkembangan kegiatan Co-Development and Transfer of Rice Technologies dari negara-negara anggota; melakukan evaluasi dan revisi (jika diperlukan) terhadap action plans proyek untuk mendapatkan hasil yang lebih optimal; mengembangkan framework untuk monitoring dan evaluasi terhadap kegiatan dalam proyek; dan mengenalkan template paket transfer teknologi untuk padi.
Dalam sambutannya, Ir. Mastur, M.Si, Ph.D. (Kepala BB Biogen) menyampaikan perlunya untuk terus mendorong negara-negara anggota agar dapat memberikan sesuatu yang dapat dimanfaatkan bersama dari kegiatan kerjasama ini. Tidak menutup kemungkinan ke depan kerjasama diantara negara-negara yang terlibat dalam kegiatan ini dapat diperluas dan ditingkatkan untuk aspek yang lainnya terkait penelitian/pengembangan bioteknologi dan sumber daya genetik (SDG) pertanian. Kementerian pertanian terkhususnya Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) memberikan perhatian yang sangat serius terhadap Litbang bidang bioteknologi dan SDG pertanian.
Sementara itu mewakili PhilRice, Eduardo Jimmy P. Quilang (Deputy Executive Director) menyampaikan apresiasi yang setingi-tingginya atas kegiatan kerjasama multi-negara tersebut. Melalui Department of Agriculture, Filipina telah mengamanatkan swasembada beras (rice self sufficient) dan ketahanan pangan terhadap beras (rice secure) pada tahun 2019. Kebutuhan konsumsi pengan beras di Filipina sangat tinggi. Cukup banyak tantangan yang dihadapi dalam rangka mewujudkan rice self sufficient dan rice secure tersebut, salah satunya adalah terkait perbenihan. Saat ini baru sekitar 60% petani yang menggunakan benih kualitas standar. Padahal, dengan penggunaan benih berkualitas standar produksi dapat ditingkatkan sekitar 10%. Oleh karena itu, pemerintah Filipina terus melakukan berbagai upaya terkait penggunaan benih berkualitas standar oleh petani. melalui workshop ini diharapkan akan diperoleh berbagai informasi dan teknologi penting dari hasil sharing diantara negara anggota, guna membantu target nasional Filipina untuk upaya pemenuhan kebutuhan pangan yang lebih baik di masa mendatang.
Workshop tersebut merupakan bagian dari kegiatan kerjasama Co-development and Transfer of Rice technologies. Tujuan keseluruhan dari proyek ini adalah untuk memperbaiki adaptasi terhadap perubahan iklim dan meningkatkan ketahanan pangan petani miskin sumber daya di negara-negara Asia Tenggara dengan memperkuat konservasi dan pemanfaatan berkelanjutan sumber genetik padi; dengan tujuan khusus adalah untuk (1) mengidentifikasi karakteristik fenotipik dan genotip varietas lokal dari negara-negara peserta, (2) meningkatkan produktivitas varietas lokal di negara-negara peserta melalui penggunaan penanda molekuler dan jalur isogenik dekat (NIL), dan (3) pertukaran varietas unggul / modern di antara negara-negara peserta. Proyek ini dilaksanakan oleh sebuah konsorsium yang terdiri dari Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) sebagai koordinator, The Malaysian Agricultural Research and Development Institute (MARDI) dari Malaysia, National Agriculture and Forestry Research Institute (NAFRI) dari Lao PDR, dan Philippine Rice Research Institute (PhilRice) dari Filipina sebagai organisasi yang berpartisipasi. Kegiatan proyek akan dilakukan selama tiga tahun yang terdiri dari workshop / rapat, pelatihan dan kegiatan lapangan / laboratorium.
Selain pertemuan koordinasi diantara negara-negara aggota, workshop dilanjutkan dengan kunjungan ke berbagai fasilitas penelitian padi di PhilRice, serta cagar budaya internasional (UNESCO heritage site) persawahan terasiring di Batad, Banaue, provinsi Ifugao. Sebagai rangkaian dari kegiatan workshop tersebut, dilaksanakan pula kegiatan Molecular Training on Co-development and Transfer of Rice Technology.
instagram takipçi hilesi hacklink c99 shell Google