Amankah Kedelai Transgenik (GMO) sebagai bahan baku Tempe?

Tempe

Siapa yang tidak suka tempe? Hampir semua masyarakat Indonesia pasti pernah dan sangat suka makan tempe. Tempe merupakan makanan tradisional Indonesia yang sangat terkenal, bahkan di manca negara. Namun seringnya Tempe masih dianggap makanan murahan dan tidak bergizi, sehingga sering dipandang sebelah mata, dikarenakan tidak banyak yang tahu keistimewaan tempe. Padahal, tempe banyak sekali mengandung nutrisi yang baik untuk kesehatan.

Tempe merupakan sumber protein nabati, dibuat dari kacang kedelai yang difermentasikan dengan jamur Rhizopus oligosporus. Menurut penelitian terbaru, kandungan gizi tempe disejajarkan dengan kandungan gizi pada yogurt. Mengandung serat pangan, kalsium, vitamin B dan zat besi. Kandungan antibiotika dan antioksidan di dalamnya dapat menyembuhkan infeksi serta mencegah penyakit degeneratif. Dalam 100 gram tempe mengandung protein 20,8 gram, lemak 8,8 gram, serat 1,4 gram, kalsium 155 miligram, fosfor 326 miligram, zat besi 4 miligram, vitamin B1 0,19 miligram, karoten 34 mikrogram.

Namun sayangnya bahan baku tempe di Indonesia sebagian besar (80%) berasal dari kedelai impor. Kedelai impor sebagian besar berasal dari Amerika yang notabene adalah transgenik (1,8 juta ton). Hal ini berdasarkan laporan global status of biotech crops tahun 2015 dari Clive Jamaes (ISAAA), bahwa hingga tahun 2015 total pertanaman GMO (biotech crops) telah mencapai 2 milyar hektar, dimana 1 milyar hektar (setengahnya) adalah kedelai, 0,6 milyar hektar jagung, 0,3 milyar hektar kapas dan 0,1 milyar hektar kanola. Amerika Serikat merupakan negara yang paling banyak menanam tanaman transgenik (70,9 juta ha) disusul Negara Brazil (44,2 juta ha) dan Argentina (24,5 juta ha). Alasan para pengrajin tempe lebih senang menggunakan kedelai impor dikarenakan kedelai impor berukuran lebih besar, putih dan mudah diperoleh setiap saat. Sedangkan kedelai lokal, meskipun rasanya lebih enak, namun ukuran bijinya lebih kecil dan tidak tersedia setiap saat.

Aktivitas di salah satu industri pengolahan kedelai menjadi produk tahu dan tempe.
Bahan baku tempe

Kedelai merupakan bahan baku tempe. Kedelai diproses melalui pencucian, pemasakan/perebusan dan fermentasi. Para produsen tempe umumnya memilih kedelai yang berukuran besar, berwarna putih/bersih dan yang mudah didapat di pasar, sehingga para pengrajin lebih memilih kedelai impor daripada kedelai local. Alasannya, kedelai impor lebih memenuhi kebutuhan/persyaratan pembuatan temped an yang paling utama kedelai impor sangat mudah didapat di pasar karena stok selalu ada/melimpah, sehingga kontinyuitas produksi tempe selalu terjamin. Berbeda dengan kedelai local, meskipun dari segi rasa lebih enak, namun kendalanya ukuran biji kurang besar dan stok tidak selalu ada di pasar (tergantung panen).

Kedelai impor sebagian besar dari Amerika Serikat, dan tentu saja kemungkinan besar adalah transgenik (GMO). Kedelai yang ditanam di Amerika Serikat sebagian besar adalah kedelai transgenik RR (Roundup Ready), yaitu kedelai toleran herbisida berbahan aktif glifosat. Kedelai ini dibuat melalui transfer gen EPSPS dari Agrobacterium sp strain CP4 dan dikomersialkan pada tahun 1996. Jumlah pertanaman kedelai trasgenik RR di Amerika Serikat sebesar 70.9 juta ha (39 % dari 1 milyar ha total kedelai transgenik global). Impor kedelai Indonesia dari Amerika Serikat melalui USSEC (United State of Soybean Export Council) berupa bungkil kedelai. Bungkil kedelai ini di Indonesia dijadikan bahan pangan (bahan kedelai) dan pakan ternak. Sedangkan di Negara lain, bungkil kedelai Amerika hanya dijadikan pakan ternak.

Kedelai sebagai bahan baku tempe.
Status Aman Kedelai RR Amerika Serikat

Berdasarkan hasil pengkajian keamanan lingkungan, pangan dan pakan di Amerika Serikat kedelai RR ini telah dinyatakan aman lingkungan oleh USDA (United State Department of Agricuture), aman pangan dan pakan oleh FDA (Food and Drug Administration). Dari kajian aman pangan (kesepadanan substansial), kedelai RR dinyatakan aman untuk dikonsumsi (aman pangan) karena mengandung nutrisi yang sama dengan kedelai non transgeniknya. Selain di Amerika Serikat, kedelai RR juga telah dinyatakan aman di Kanada, Jepang, Eropa dan Negara-negara lain.

Kajian menyatakan bahwa enzim CP4 EPSPS sudah umum terdapat pada kedelai dan juga tanaman lainnya. Ensim ini sangat sensitif terhadap glifosat. Protein CP4 EPSPS dari Agrobacterium berfungsi sama dengan ensim EPSPS, namun toleran terhadap glifosat sehingga tanaman kedelai RR toleran terhadap glifosat (Roundup Ready). Protein CP4 EPSPS telah dievaluasi melalui serangkaian uji dan dinyatakan aman untuk dikonsumsi karena kadarnya sangat rendah pada biji kedelai (0,1% dari total protein), sangat cepat dicerna, tidak menimbulkan alergi dan tidak menimbulkan bahaya pada hewan ternak sebagai pakan.

Pada proses pembuatan tempe, kedelai diproses melalui pemasakan/dipanaskan dengan suhu tinggi dan cukup lama, sehingga protein dari CP4-EPSPS telah hancur dan tidak membahayakan tubuh. Dari hasil kajian tersebut maka dapat disimpulkan bahwa kedelai transgenik dari Amerika Serikat yang digunakan sebagai bahan baku pembuatan tempe secara ilmiah aman dan tidak berbahaya. Namun demikian, bagi masyarakat yang masih ragu-ragu untuk menkonsumsi tempe berbahan baku kedelai transgenik, masih ada pilihan lain. Saat ini sudah banyak produsen tempe yang menggunakan bahan baku kedelai lokal, seperti varietas Wilis, Grobogan dan sebagainya. Bahkan telah ada pula kedelai yang dibuat dari biji kacang hijau. Nah, silakan Anda memilih.
wso shell indoXploit shell wso shell hacklink hacklink satışı hacklink satış deface mirror wso shell