Kajian Tematik Komoditas Jeruk dan Feromon

Dua materi menarik telah dibahas dalam Seminar Kajian Tematik Komoditas BB Biogen pada tanggal 9 Oktober 2017. Materi kajian pertama tentang ‘Pemanfaatan Feromon untuk Pengendalian Serangga Hama yang Ramah Lingkungan’ disampaikan oleh Dr. I Made Samudera pakar Feromon BB Biogen. Kemudian materi kedua tentang ‘Tantangan dan Prioritas Pengembangan Jeruk Tahun 2020-2024’ disampaikan oleh Dr. Mia Kosmiatin peneliti kultur in vitro jeruk.

Kita ketahui bahwa feromon merupakan senyawa yang dihasilkan oleh serangga yang bersifat sangat spesifik, yaitu hanya bisa dikenali oleh serangga secara spesifik, yang memiliki feromon binding protein. Senyawa feromon pada serangga dapat dimanfaatkan untuk monitoring hama, pengacau kopulasi/kawin (mating disrubtion), perangkap massal dan insektisida. Dr. I Made Samudera dan timnya telah berhasil mengembangkan sejumlah formulasi feromon untuk pengendalian hayati beberapa serangga hama, seperti Fero-Exi untuk pengendalian hama ulat bawang, Fero-Ostri untuk hama penggerek batang jagung, Fero-Lanas untuk hama ubi jalar, Fero-Grayak untuk hama ulat grayak pada kedelai. Formulasi feromon tersebut telah terbukti efektif sebagai perangkap serangga jantan, sehingga dapat mengurangi populasi hama. Sejumlah formulasi feromon tersebut telah dipatenkan dan dilisensikan ke perusahaan.

Untuk penelitian ke depan, Dr. Made dan timnya masih akan mengembangkan formulasi feromon lainnya untuk beberapa hama penting diantaranya hama kubis (Crocidolomia dan Plutella), hama kumbang kelapa sawit dan sebagainya. Peran feromon dalam mengurangi aplikasi pestisida juga akan menjadi perhatian penting untuk menjawab tujuan awal pengembangan feromon sebagai pengendali hama yang ramah lingkungan.

Dr. Mia Kosmiatin saat menyampaikan paparan mengenai Tantangan dan Prioritas Pengembangan Jeruk Tahun 2020-2024.
Para peserta seminar sedang menyimak pemaparan materi oleh Dr. I Made Samudra mengenai Pemanfaatan Feromon untuk Pengendalian Serangga Hama yang Ramah Lingkungan.

Kajian pada komoditas jeruk, saat ini penelitian masih difokuskan untuk pengembangan varietas unggul jeruk super sweet hasil fusi protoplas dan varietas unggul tahan penyakit HLB (HuangLongBing). Sejumlah klon hasil fusi protoplas jeruk Siam Medan dengan Mandarin Satsuma telah diperoleh dan diantaranya ada klon yang diharapkan, yaitu rasa sangat manis, sedikit biji (seedless) dan mudah dikupas. Klon jeruk ini yang akan dipilih dan akan dikembangkan lebih lanjut menjadi varietas unggul.

Di sisi lain, tantangan pada jeruk adalah adanya Penyakit yang terkait dengan bakteri dengan vektor serangga yang lebih dikenal dengan penyakit HuangLongBing (HLB). Penyakit ini merupakan ancaman terbesar terhadap industri jeruk di dunia. Melalui penerapan teknologi genome editing. Tim peneliti jeruk di BB Biogen mencoba untuk merakit varietas jeruk tahan HLB. Pemuliaan jeruk melalui pemuliaan non konvensional ini merupakan salah satu sumbangan teknologi bagi pengembangan komoditas hortikultura di Indonesia, khususnya jeruk. Harapannya, semoga melalui teknologi ini dapat mengurangi impor jeruk yang kian meroket akhir-akhir ini.
instagram takipçi hilesi hacklink c99 shell Google