Seminar Kajian Komoditas Pisang, Tebu, Kentang dan Tomat

Penentuan prioritas kegiatan penelitian yang tepat akan memiliki dampak yang positif dalam pemanfaatan suatu bidang keilmuan. Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Bioteknologi dan Sumber Daya Genetik Pertanian (BB Biogen) di Bogor pada sepertiga akhir tahun 2017 mengadakan serangkaian seminar kajian komoditas seperti padi, kedelai, cabe, tebu dan sebagainya. Hal ini sebagai langkah awal dalam rangka penyusunan rencana strategis (renstra) tahun 2020-2024 yang akan dimulai pada bulan Januari 2018.

Pada tanggal 15 Nopember 2017, BB Biogen mengadakan seminar komoditas pisang, tebu, kentang dan tomat yang disampaikan oleh Drs. Deden Sukmadjaja, M.Si (untuk pisang), Dr. Ragapadmi Purnamaningsih (untuk tebu), Dr. Edy Listanto (untuk kentang) dan Dr. Kusumawaty Kusumanegara (untuk tomat). Pemateri menyampaikan gambaran umum masing-masing komoditas, permasalah yang dihadapi dan beberapa strategi pemecahan masalah.

Secara global, pisang merupakan komoditas yang penting pada urutan ke-4 setelah padi, gandum dan jagung. Pisang juga merupakan buah yang paling banyak dikonsumsi masyarakat. Secara genomik, kromosom pisang menunjukkan ada yang bersifat diploid (AA, AB) seperti pisang Mas, triploid (AAA, AAB, ABB) seperti pisang Kepok, pisang Ambon, pisang Cavendish, dan bahkan tetraploid (AAAA) seperti pisang Kabana 1. Permasalahan utama pada pisang antara lain serangan hama nematoda dan penyakit pisang termasuk penyakit layu Fusarium. Penelitian pada tanaman pisang sudah banyak dilakukan baik melalui teknik pemuliaan maupun bioteknologi. Salah satu contoh adalah percobaan pembuatan pisang Cavendish transgenik untuk ketahanan terhadap virus BBTV (Banana Bunchy Top Virus). Selain itu, Superbananas telah dikembangkan oleh Queensland University of Technology di Australia. Superbananas ini memiliki kelebihan akan kandungan provitamin A yang tinggi.

Pendekatan yang disampaikan untuk permasalah pisang antara lain konservasi plasma nutfah, pemulian, variasi somaklonal, modifikasi genetik, serta genomik. Tebu merupakan komoditas kedua yang dibahas. Tanaman yang berasal dari Papua New Guinea ini dapat tumbuh pada semua jenis tanah. Tebu merupakan penyumbang terhadap produksi gula nasional. Tanaman ini dibedakan menjadi tiga tipe kemasakan: varietas genjah / masak awal, varietas sedang / masak tengah dan varietas dalam / masak lambat. Harapannya pertumbuhan produksi tebu adalah 4,6% pada tahun 2019 sehingga bisa melakukan swasembada gula konsumen dan naik menjadi 7,5 % pada tahun 2025 untuk swasembada gula industri. Permasalah tebu secara garis besar terdapat pada produktivitas dan rendemen yang masih rendah. Hal ini dikarenakan jenis varietas, lahan serta iklim yang tidak mendukung. Selain itu terdapat juga permaslahan hama dan penyakit. Pendekatan yang dipaparkan antara lain persilangan varietas dengan bantuan perbanyakan klonal, kultur in vitro dan mutagenesis, kloning gen serta transformasi genetik.

Kentang memiliki produksi nasional senilai 1,2 juta ton pada 2016. Impor kentang pada tahun yang sama masih berjalan sebanyak 26 ribu ton terutama untuk varietas Atlantic. BB Biogen sudah mengembangkan tanaman kentang transgenik untuk ketahanan terhadap penyakit hawar daun yang disebabkan oleh Phytophotora infestans. Saat ini, produk tersebut telah memperoleh sertifikat keamanan pangan dan sedang dalam proses mendapatkan sertifikat keamanan lingkungan. Permasalahan kentang selain penyakit hawar daun juga penyakit layu bakteri yang disebabkan oleh Ralstonia solanecearum dan adanya hama NSK (nematoda sista kentang) oleh Globodera rostochiensis dan Meloidogyne spp.

Strategi yang disampaikan untuk mengatasi masalah tersebut dititikberatkan pada rekayasa genetik dengan memanfaatkan gen-gen ketahanan tanaman. Pendekatan persilangan sering kali tidak berhasil karena adanya perbedaan ploiditas pada varietas kentang. Tomat merupakan komoditas buah yang memiliki nilai ekonomi yang tinggi karena selain dikonsumsi sebagai tomat segar, juga dimanfaatkan dalam bahan baku industri makanan. Tanaman tomat dapat dibudidayakan secara luas baik dataran rendah maupun dataran tinggi. Buah ini memiliki prospek pengembangan yang baik di kancah ASEAN, namun masih memerlukan penanganan yang serius terkait peningkatan hasil dan kualitas buah. Permasalahan pada tomat, selain kekeringan, juga hama kutu dan lalat serta ulat buah, dan penyakit seperti hawar daun, layu Fusarium serta virus TYLCV (Tomato Yellow Leaf Curl Virus). Selain itu, terdapat juga permasalahan penyimpanan dan distribusi.
Pendekatan yang dipaparkan antara lain pemanfaatan gen-gen yang sudah diketahui dapat menurunkan dampak negatif dari cekaman kekeringan maupun serangan penyakit. Sedangkan permasalahan hama disarankan untuk memanfaatkan pengelolaan tanaman terpadu. Dalam sesi diskusi disampaikan bahwa untuk beberapa komoditas termasuk pisang, pemetaan genom terhadap beberapa varietas telah dilakukan sehingga dapat dimanfaatkan untuk keperluan pada tahap berikutnya seperti pembuatan marka penanda untuk percepatan pemuliaan. Tersedianya bank gen di BB Biogen perlu dimanfaatkan secara optimal untuk komoditas-komoditas di atas sehingga dapat membantu memperlancar kegiatan penelitian komoditas.

Selain itu, perlu juga kerja sama dengan balai-balai penelitian lainnya terutama balai komoditas untuk lebih mempertajam penelitian yang akan dilaksanakan. Program BB Biogen akan menyimpulkan prioritas penelitian dari seminar kajian komoditas ini untuk kemudian dipresentasikan dihadapan para stakeholder (pusat penelitian, balai penelitian, direktorat jenderal, , petani, pengusaha). Rencana ini diharapkan dapat memberikan solusi untuk permasalahan yang menjadi tanggung jawab Balitbangtan yang tidak bisa dipecahkan oleh balai penelitian komoditas.
wso shell indoXploit shell wso shell hacklink hacklink satışı hacklink satış deface mirror wso shell