Panen Terus: Petani Batang Ikut Menangkal Impor Beras

Ketersediaan pangan terutama padi, jagung, kedelai merupakan faktor utama untuk mencapai swasembada pangan dalam rangka menuju lumbung pangan dunia 2045. Melalui program strategisnya, Meneteri Pertanian Dr. Andi Amran Sulaiman telah membuat terobosan strategis dengan mengeluarkan kebijakan Upaya Khusus (Upsus) Padi, Jagung dan Kedelai (Pajale) sejak tahun 2015/2016. Hasil nyata sudah tampak, sejak 3 tahun terakhir swasembada beras telah kita raih dan menyusul jagung. Dan sejak program ini dicanangkan sudah tidak ada musim paceklik dan harga-harga kebutuhan poko relatif stabil tidak ada gejolak meskipun pada hari-hari khusus seperti musim puasa/lebaran atau natal/tahun baru. Hal ini juga adanya dukungan ketersediaan bahan pangan di Bulog serta kegiatan panen yang tiada henti di seluruh pelosok negeri meskipun pada masa-masa yang sering disebut paceklik.

Kegiatan panen harian dalam rangka mendukung swasembada pangan terus berlangsung setiap hari dan dimana-mana khususnya di Jawa Tengah dan Provinsi lainnya. Di beberapa daerah Jawa Tengah yang masih kenthal nuansa gotongroyongnya dengan menunjukkan kerjasama, bau-membau dan saling sinergi dari setiap unsur masyarakat dalam mencapai panen padi yang gemilang. Seperti di Desa Harjowinangun Barat, Kecamatan Tersono yang tergabung dalam Gapoktan Tani Makmur diketuai Siswanto, atau di Kelompok tani “Makmur” desa Grinsing, kecamatan Grinsing, Kabupaten Batang diketuai Awali berhasil menunjukkan kegigihannya secara bersama untuk memperoleh panen padi yang tinggi. Kerjasama unsur kecamatan dan kelurahan setempat, serta penyuluh Dinas Pertanian Batang, BPTP Jateng serta Babinsa TNI berhasil turut mendukukung swasembada pangan dengan gerakan panen tiap hari untuk ikut menangkal impor beras.

Hasil pantaun di kabupaten Batang ditemukan kegiatan panen padi di beberapa titik. Kegiatan pemantauan didampingi Penyuluh Dinas Pertanian Kabupaten Batang, BPTP Jateng, Balitbangtan, Kementan serta Babinsa TNI. Kegiatan panen yang dilakukan oleh Kelompok Tani “Tani Makmur 3” desa Harjowinangun Barat, seluas 3,5 ha dan luas hamparan yang akan dipanen sekitar 80 ha. Varietas yang dipanen adalah varietas Membramo dengan provitas 6-7 ton/ha. Selain Varietas Membramo, sering digunakan varietas Sidenok dan Inpari 11. Sedangkan, Indeks Pertanaman (IP) dapat mencapai 7 kali dalam dua tahun karena dukungan kemudahan sumber air. Harga gabah kering panen pada saat panen sekitar Rp. 5.500,-. Kendala produksi yang sering muncul adanya wereng batang coklat secara spot-spot.

Pantauan Panen di desa Grinsing, kecamatan Grinsing, kabupaten Batang panen oleh kelompok Tani Makmur di lahan seluas 1,5 ha dengan provitas sekitar 6-7 ton/ha. Varietas yang digunakan adalah varietas Situbagendit. Selain varietas tersebut juga kadang digunakan IR64. Harga gabah kering panen pada saat panen sekitar Rp. 5.700,-. Kendala produksi yang sering muncul adalah adanya serangan Sundep dan spot-spot wereng batang coklat.

Guna meningkatkan pendapatan petani, selain teknologi budidaya juga perlu diterapkan teknologi pasca panen. Tentu saja semuanya tidak berarti bila harga gabah tidak kondusif. Karena itu, petani tidak menginginkan adanya impor beras pada saat-saat ini karena kenyataannya stok beras terus terisi. Dukungan dari Kementan dan berbagai pihak agar harga gabah kondusif sangat dibutuhkan.

Sumber berita:
http://www.swadayaonline.com
instagram takipçi hilesi hacklink c99 shell Google