Feromon Anak Bangsa Amankan dan Sehatkan Bawang Merah, Tekan Pestisida 75%

Salah satu kebiasaan sebagian masyarakat kita adalah menyantap buah dan sayuran segar tanpa dicuci atau hanya dibilas dengan air. Padahal sebagai bahan pangan apalagi konsumsi segar harusnya selain sehat juga harus aman. Pada sayuran terdapat kemungkinan residu pestisida yang masih menempel. Ancaman turun hasil atau gagal panen, perlu diatasi dengan cara efektif namun aman bagi manusia dan lingkungan. Bawang merah adalah salah satu sayuran yang umumnya berfungsi sebagai bumbu baik untuk pangan atau olahan. Budi daya bawang merah sangat rentan terhadap hama dan penyakit sehingga petani kerap menggunakan pestisida dosis tinggi untuk dapat mempertahankan produksi.

Pada tahun 2017 Indonesia melakukan ekspor bawang merah untuk pertama kali sejak tahun 2014. Saat pelepasan, Menteri Pertanian Amran Sulaiman menyebutkan bahwa produksi bawang merah pada tahun 2017 berlimpah sehingga mampu melakukan ekspor ke Thailand sebanyak 5.600 ton. Tingginya produksi bawang merah tersebut tentu juga terkait dengan penggunaan pestisida yang digunakan petani mengalami peningkatan. Hal itu karena ancaman ulat pada bawang merah yang tinggi.

Keluhan petani akan ancaman ulat pada bawang merah tahun lalu di Brebes sempat sampai ke Presiden. Beliau minta agar masalah ini bisa diatasi. Untuk mencegah peningkatan populasi hama ulat bawang merah dan bawang daun Spodoptera exigua, Balitbangtan merakit teknologi untuk khusus untuk mengendalikan hama ulat tersebut. Feromon ini telah dipatenkan dan dilisensi swasta, serta dijual komersialnya. Tahun lalu teknologi ini dicoba di Brebes, merespon permintaan Presiden dan hasilnya efektif.

Menurut Dr I Made Samudra, peneliti inventornya dari BB Biogen, feromon ini bekerja dengan mekanisme kerja menarik ngengat jantan ulat bawang dengan membuat feromon penarik serangga jantan dewasa dan menjebaknya agar masuk ke dalam perangkap, sebuah toples yang sudah dipasang Feromon dan air sabun (sebagai jebakan).

Dirjen Hortikultura Spudnik Sujono, dua tahun lalu tepatnya pada hari senin 18 April 2016, saat sosialisasi penanggulangan hama bawang merah menyatakan bahwa pemakaian feromon ternyata lebih efektif dalam mengatasi hama (ulat) dari pada pestisida pada. Beberapa wilayah yang sudah diuji coba dalam satu musim tanam, penggunaa feromon yaitu Brebes dengan petakan berferomon 3 kali aplikasi insektisida, petakan petani 15-16 kali aplikasi. Di Cirebon, petakan berferomon 5-7 kali aplikasi insektisida, petakan petani setiap 3 hari sekali.

Di Brebes dengan petakan yang berbeda, petakan berferomon 3–7 kali aplikasi insektisida, petakan petani 2-3 perhari (20 kali). Dari hasil percobaan menggunakan Feromon ini dilaporkan hasil meningkat menjadi 25-30 ton/ha, tidak berbeda nyata antara petakan berferomon dan petakan petani intensif aplikasi insektisida. Serta dapat menghemat sekitar Rp 4 juta per hektar, belum termasuk tenaga kerja, pemetik daun rusak.

Pada pengujian di Brebes tahun 2017, petani berhasil menurunkan penggunaan pestisida hingga 75%. Sebagai gambaran, petani harus mengeluarkan biaya Rp 8 juta setiap sekali semprot. Namun dengan memanfaatkan feromon ini, produk lebih sehat, serta tidak mencemari lingkungan. Hanya mengurangi populasi spesies target dan tidak membunuh serangga lain. Karena itu feromon sangat cocok untuk pertanian organik yang menyehatkan dan ramah lingkungan.
instagram takipçi hilesi hacklink c99 shell Google