Petani di Cirebon Puas dengan Padi Inpari 40

Padi Inpari 40 merupakan salah satu varietas unggul baru (VUB) yang dihasilkan oleh Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) dan telah dilepas pada 2015 lalu.

Saat ini Inpari 40 telah ditanam di sejumlah daerah, salah satunya di Desa Kalimaro, Kecamatan Gebang, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat.

Mulya, salah satu petani mengaku puas dengan Inpari 40 karena memiliki beberapa kelebihan, diantaranya aplikasi dan perawatan yang mudah, proses tumbuh cepat, biji banyak, genjah, serta malai yang merata. Selain itu Inpari 40 tidak bergantung pada kesediaan air.

“Saya tanam Inpari 40 di lahan seluas dua hektar. Bisa dibilang padinya enggak bergantung pada air karena air banyak dia subur, air sedikit juga tetap subur,” ujar Mulyadi.

Jika dibandingkan dengan padi yang biasa ditanam, Mulyadi mengaku merasakan banyak perbedaan, mulai dari umur yang panjang, perawatannya yang sulit hingga produktivitasnya yang rendah.

Inpari 40 merupakan hasil pemuliaan dengan bantuan marka molekuler sehingga tanaman ini memiliki sejumlah keunggulan seperti produktivitas tinggi dan memiliki sifat amfibi yakni mampu berproduksi dalam keadaan kurang air maupun kelebihan air.

Karena sifat amfibinya, maka Inpari 40 ini sangat cocok dikembangkan di daerah yang mengalami ancaman kekeringan maupun di daerah dengan curah hujan tinggi.

Menurut Kepala UPBS BB Biogen Dr Dodin Koswanuddin, selain di Cirebon, Inpari 40 juga telah dikembangkan di daerah Nusa Tenggara Barat, Kalimantan Timur, dan beberapa provinsi lain. Bahkan di salah satu daerah di Bogor, petani telah mengolah Inpari 40 menjadi beras, mengemas dan memasarkan secara mandiri sehingga memeroleh nilai tambah yang tinggi.

Targetnya, varietas ini akan terus dikembangkan di daerah-daerah lain guna meningkatkan kesejahteraan petani serta mendukung swasembada beras.

Penulis: Andika Bakti

Editor: Mastur, PhD