Saat Menteri Amran Lupa Hari Libur

Masa efektif Kabinet Kerja Pemerintahan Jokowi – JK memang tinggal menghitung hari. Namun, rupanya semangat menteri Kelahiran Bone, Sulawesi Selatan itu masih terus berkobar. Semangatnya masih seperti menteri yang baru sudah dilantik.

“Saya gelisah kalau tidak bekerja. Saya sudah biasa bekerja dan produktif,” kata Menteri Pertanian (Mentan)¬†Andi Amran Sulaiman¬†di sela ngopi santai bersama awak media di ruang kerjanya, Kantor Kementerian Pertanian, Jakarta, Minggu sore (25/8).

Terkenal bekerja hingga larut malam dan bangun tepat waktu di subuh buta, kini menteri yang dijuluki Bapak Jagung itu seakan tidak mengenal hari libur lagi belakangan ini. Semua itu karena tanggung jawab sebagai menteri.

Amran mengaku lupa waktu dan bahkan mungkin kepada pegawainya, karena merasa tidak terbebani memikul tanggung jawab sebagai menteri pertanian. Bekerja tulus dan fokus, dua hal yang selalu dipegangnya sejak masih usia dini hingga sekarang.

“Yang ada di pikiran saya, selalu, bagaimana memajukan pertanian negeri kita ini,” kata Amran.

Bukan omong kosong memang. Dua hari ini, Sabtu dan Minggu, Amran memimpin dua rapat berbeda bersama para Dirjen dan pejabat teras Kementan lainnya.

Menurut Amran, masalah pertanian saat ini sangat komplek. Mulai dari isu kemarau panjang, harga cabai, hingga perluasan pertanaman tanaman pangan. Semua butuh penyelesaian.

Kerja keras itu memang sudah terlihat nyata di depan mata. Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) sendiri sudah mengakui Capaian pertanian lewat risetnya.

“Teman-teman bisa melihat sekarang capaian kinerja Kementan saat ini seperti apa. Bappenas mengakui kinerja kami mempengaruhi kemajuan pembangunan daerah,” kata Amran sembari menunjukkan riset Bappenas.

Riset terbaru Bappenas mengatakan setiap peningkatan 1 persen belanja alsintan, maka mendorong 0,33 persen peningkatan subsektor pertanian, peternakan, perburuan, dan jasa pertanian di daerah.

Pertanian Indonesia saat ini memang sudah mulai modern. Alat mesin pertanian modern tidak hanya di Jawa atau sentra produksi, tapi sudah sampai ke lahan pertanian yang ada di pelosok, dan memberi dampak pembangunan yang signifikan.

Selain itu, PDB sektor pertanian tercatat 3.7 persen lebih besar dibandingkan target pemerintah yaitu 3.5 persen. Kementan refocussing anggaran yang tepat dan leadership yang kuat menjadi kuncinya.

Di balik capaian selama lima tahun itu, ternyata ada fakta menarik yang jarang orang tahu, yaitu anggaran Kementan dari tahun ke tahun terus menurun. Anggaran pertanian tertinggi pada 2015, yaitu Rp32.72 triliun.

Kemudian pada 2016 turun jadi Rp 27.72 triliun, Rp 24.23 triliun (2017), Rp 23. 90 triliun (2018) dan Rp 21.71 triliun (2019), dan yang terbaru untuk 2020 ditetapkan sebesar Rp 21,05 triliun.

“Jadi, saya bilang kepada Dirjen, ini ko bisa begini. Secara logika kan anggaran turun capaian juga menurun dong, tapi alhamdulillah meski anggaran terus dipangkas kinerja pertanian moncer,” ujar Amran dengan raut wajah bahagia.

Hingga jarum jam menunjukkan pukul 18:20 WIB, seorang staf Kementan tetiba celetuk menyadarkan Amran untuk segera menutup acara santainya sore itu.

“Pak, besok sudah hari Selasa. Sekarang rasanya hari Senin,” kata pejabat itu disambut tawa lepas semua yang hadir.

Sumber: Jurnas.com