Teknik Regenerasi Tanaman Kedelai secara In Vitro

Kedelai merupakan tanaman pangan penting kedua setelah padi. Kedelai merupakan sumber protein nabati yang sangat bermanfaat bagi manusia. Kedelai banyak dimanfaatkan sebagai bahan pangan di Indonesia, seperti bahan pembuatan tempe, tahu, susu, kecap dan lain-lain sehingga kebutuhan kedelai nasional terus meningkat setiap tahunnya. Perbanyakan tanaman kedelai umumnya dilakukan melalui biji (generatif), jarang dilakukan perbanyakan secara vegetatif. Perbanyakan kedelai secara vegetatif dapat dilakukan secara in vitro dengan Teknik kultur jaringan, namun Kedelai tergolong jenis tanaman yang bersifat rekalsitran, sehingga tidak mudah untuk diregenerasikan secara in vitro. Perbanyakan kedelai secara in vitro ini hanya dilakukan untuk tujuan tertentu saja, seperti untuk penyelamatan embrio hasil persilangan, seleksi in vitro dan rekayasa genetika. Perbanyakan kedelai secara in vitro dapat dilakukan melalui jalur organogenesis (pembentukan organ/tunas) ataupun embryogenesis (pembentukan embrio somatik). Perbanyakan kedelai melalui jalur organogenesis dihasilkan melalui induksi tunas secara langsung dari eksplan tanaman kedelai (kotiledon tua/muda, tunas aksilar, embrio muda/tua). Teknik ini lebih mudah, lebih cepat dan sama dengan tanaman induk, namun tunas yang dihasilkan dari setiap eksplan hanya sedikit dan tidak seragam. Regenerasi kedelai melalui jalur embryogenesis dihasilkan melalui induksi embrio somatik dari eksplan kedelai (Kotiledon muda/tua, embrio muda). Induksi embrio somatik dapat dilakukan secara langsung ataupun tidak langsung. Induksi embrio somatik secara lansung dilakukan tanpa melalui pembentukan kalus terlebih dahulu, namun langsung dari eksplan diinduksi membentuk embrio somatik. Sedangkan induksi embrio somatik secara tidak langsung dilakukan melalui pembentukan kalus embriogenik dari eksplan tanaman, kemudian diinduksi menjadi embrio somatik. Tahapan dalam regenerasi melalui embryogenesis adalah mula-mula terbentuk struktur globular (Globular-shaped) pada kalus, berkembang menjadi struktur hati (heart-shaped), kemudian membentuk struktur torpedo (torpedo-shaped) dan terakhir terbentuk struktur embrio somatik dewasa (complete plantlet). Keuntungan Teknik regenerasi tanaman melalui jalur embryogenesis adalah dapat dihasilkan planlet (bibit tanaman) secara cepat, seragam dalam jumlah yang banyak. Teknik terakhir ini lebih dikenal sebagai Teknik SE (Somatik Embriogenesis). Namun teknik ini kurang tepat jika diterapkan pada tanaman kedelai. Teknik ini lebih banyak diterapkan pada tanaman perkebunan untuk menghasilkan bibit dalam jumlah banyak dan seragam, seperti pisang, kopi, coklat, jati, karet, tebu dan kelapa sawit. Aplikasi Teknik regenerasi tanaman kedelai melalui jalur Organogenesis pernah dilakukan untuk penyelamatan biji kedelai F1 hasil persilangan kedelai unggul dan kedelai introduksi (Pardal, S.J. et.al., 1994) dan untuk regenerasi tanaman kedelai hasil transformasi genetik gen toleran Al (MaMt2) pada varietas Lumut (Anggraito, Y.U., 2012). Sedangkan aplikasi Teknik regenarasi tanaman melalui jalur embryogenesis langsung dan tidak langsung pernah dilakukan pada penelitian transformasi genetik kedelai untuk ketahanan terhadap hama penggerek polong dengan gen proteinase inhibitor (pin) II dan gen Bt (CryIAc) (Pardal, S.J., et al., 2004).