Mentan: Masalah Pertanian Bisa Dipecahkan dengan Riset

Menteri Pertanian, Syahrul Yasin Limpo berharap semua masalah pertanian dapat dipecahkan dengan pendekatan sains dan riset yang benar. Menurutnya penerapan yang tidak didasari dengan sains dan riset dapat merugikan petani.

“Salah penerapan, kasihan petaninya nanti,” kata Yasin saat mengunjungi Kantor Balai Besar Litbang Bioteknologi dan Sumber Daya Genetik Pertanian (BB Biogen) di Bogor, Selasa (29/10/2019).

Dalam kunjungan ini, Yasin beserta rombongan melihat langsung teknologi kultur jaringan bawang putih yang tengah dikembangkan Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) melalui BB Biogen.

Peneliti Balitbangtan, Yati Supriati menjelaskan, teknologi perbanyakan benih melalui kultur jaringan ini dapat dijadikan solusi atas tingginya biaya produksi bawang putih dalam negeri.

Pada umumnya, untuk bibit diperlukan 800 kg/hektar atau senilai Rp 40 juta (jika harga bibit Rp 50 ribu/kg). Ditambah biaya tenaga kerja, sewa lahan, pemupukan dan lainnya petani bisa mengeluarkan biaya hingga Rp 90 juta.

“Sekarang bibit di petani sangat terbatas karena ketersediaanya yang kurang. Di sini Balitbangtan melalui BB Biogen ingin mengatasi masalah tersebut, mudah-mudahan berhasil,” ujar Yati.

Menanggapi hal itu, Yasin mendukung upaya pengembangan teknologi Balitbangtan. Menurutnya penelitian yang tengah dilakukan merupakan bagian yang sangat penting dari proses dan upaya memecahkan masalah pertanian.

“Hari ini kita melihat optimalisasi bawang putih yang selama ini terus menjadi masalah di negeri ini. Ternyata ada jalan keluarnya dan ini sedang dalam proses penelitian yang serius,” ujar Yasin.

“Selama ini kan bawang putih membutuhkan tingkat ketinggian tertentu, dengan hasil riset kita harus bisa menjamin bawang putih dapat ditanam di tempat-tempat potensial lainnya, itulah hasil riset yang kita harapkan,” tambahnya.

Selain melihat teknologi kultur jaringan, pada kesempatan ini Yasin juga melihat teknologi kit molekuler untuk deteksi bibit kelapa sawit palsu. Dalam komentarnya, Yasin berharap teknologi ini dapat segera dimanfaatkan.

“Ini harus dikenalkan kepada penyuluh atau pengendali wilayah agar sebelum membeli bibit, hasil risetnya memastikan bahwa kualitas bibit itu memiliki kualitas yang maksimal,” pungkasnya.

http://www.litbang.pertanian.go.id/info-aktual/3763/