Indikator Ekonomi Catat Keberhasilan Pembangunan Pertanian Indonesia

Berita

 18 total views,  1 views today.

Jakarta –¬†Kepala Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian Kementerian Pertanian (Kementan), Ketut Kariyasa, mengatakan kesejahteraan penduduk desa yang meningkatkan jumlah petani meningkat dalam 4 tahun terakhir (2014-2018).

Kariyasa dalam keterangan tertulis, Senin (10/6), menyampaikan, meningkatkan tingkat kesejahteraan Itu sesuai dengan beberapa indikator yang mewakili untuk menunjukkan kondisi tersebut. Seperti mengurangi daya beli atau meningkatkan masyarakat, semakin menurun ketimpangan pendapatan masyarakat, stabilnya atau naiknya bahan makanan, dan semakin menurunnya jumlah penduduk miskin.

“Membaiknya daya beli atau kesejahteraan petani terlihat dari peningkatannya Nilai Tukar Petani (NTP) dan Nilai Tukar Usaha Pertanian (NTUP) dalam empat tahun terakhir,” katanya.

Menurut Kariyasa, sesuai data yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2012 dasar sebesar 100, selama periode 2014-2018, NTP terus meningkat dari 102,03 (2014) meningkat menjadi 102,46 (2018). Demikian halnya dengan NTUP, juga terus meningkat dan bahkan meningkat yang lebih baik dari NTP. Pada 2014 peningkatan NTUP adalah 106,05 dan tahun 2018 meningkat menjadi 111,83.

“Membaiknya daya beli masyarakat, semakin meningkat juga semakin meningkat, atau semakin meningkat ketimpangan pendapatan masyarakat. Hal ini ditandai dengan menurunnya Rasio Gini. Pada Maret 2013, rasio Gini nasional masih 0,424 dan pada Maret 2018 naik menjadi 0,389,” ungkapnya.

Kemudian pada September 2018, pemeriksa pendapatan kembali meningkat yang ditandai oleh menurunnya Rasio Gini menjadi 0,384. Sejalan pada tingkat nasional, ketimpangan pendapatan masyarakat di perkotaan dan perdesaan juga meningkat.

“Yang cukup membuktikan bahwa pemeringkatan masyarakat perdesaan lebih baik daripada di perkotaan, yang ditandai Gini Rasio di perdesaaan selalu lebih rendah dari perkotaan,” kata Kariyasa.

Pada Maret 2013, Gini Rasio di perkotaan 0,431 dan di perdesaan 0,320 dan pada Maret 2018 hingga masing-masing menjadi 0,401 di perkotaan dan 0,324 di perdesaan. Pada September 2018, kembali naik masing-masing menjadi 0,391 di perkotaan dan 0,319 di perdesaan.

Pertanian Menjaga Angka Inflasi

Kariya menjelaskan selain memperbaiki daya beli dan ketimpangan pendapatan masyarakat, menurut Kariyasa sukses pemerintah dalam memacu produksi di dalam negeri juga berkontribusi nyata dalam menghemat harga pangan di masyarakat. Hal ini membantah dalam empat tahun terakhir untuk bahan makanan atau makanan menurun secara konsisten.

Pada tahun 2013, jumlah bahan makanan masih sangat tinggi, 11,35% dan pada tahun 2014 turun menjadi 10,57%. Pada tahun 2015 dan 2016, makanan bergolak mulai dari masing-masing menjadi 4,93% dan 5,69%.

“Bahkan pada tahun 2017, bahan makanan sampai mencapai 1,26% dan merupakan bahan makanan yang paling rendah yang pernah terjadi di Indonesia,” kata Kariyasa.

Menurutnya, dampak dari peningkatannya, indikator kenaikan di atas (peningkatannya atas daya beli, naiknya ketimpangan pendapatan, dan stabilnya harga pangan) meningkatkan jumlah penduduk miskin di Indonesia terus meningkat.

Pada Maret 2018, jumlah populasi miskin turun dan menembus angka satu digit (9,82%), dan pada September 2018 kembali naik menjadi 9,66%. Demikianlah jumlah penduduk miskin di perdesaan, pada Maret 2013 masih diterima 14,32%, dan Maret 2018 turun menjadi 13,20% dan pada September 2018 kembali naik menjadi 13,10%.

Jumlah penduduk miskin di perkotaan juga terus menurun, dari 8,39% pada Maret 2013, menjadi 7,02% Maret 2018 dan tinggal 6,89% pada September 2018.

“Membaiknya indikator-indikator ekonomi utama di atas yang menunjukkan program dan kebijakan terobosan pembangunan pertanian yang dilakukan oleh Pemerintah melalui Kementerian Pertanian selama ini telah terbukti telah meningkatkan dukungan sosial ekonomi masyarakat perdesaan, tidak hanya sebatas peningkatan produksi,” kata Kariyasa.

Sumber: https://www.gatra.com/