Pelestarian SDG Tanaman melalui Kawasan on-Farm Conservation dan Field Gene Bank

Berita

 134 total views,  1 views today.

Literasi virtual mengenai Pelestarian dan Pemanfaatan Sumber Daya Genetik Lokal yang dilaksanakan BPTP Kalimantan Selatan pada tanggal 28 Juli 2020 telah memunculkan wacana mengenai perlunya upaya lain dalam pelestarian kekayaan dan keragaman sumber daya genetik lokal Kalimantan Selatan. Selama ini untuk pelestarian lebih banyak dilakukan secara ex-situ di Kebun Raya Banua yang dikelola Pemprov Kalimantan Selatan maupun kebun raya daerah yang dikelola oleh Pemerintah Kabupaten. Selain itu dilakukan pendaftaran varietas ke Pusat Perlindungan Varietas Tanaman dan Perizinan Pertanian untuk perlindungannya.

Pemaparan Peneliti senior BPTP Balitbangtan Kalimantan Selatan Dr. Aidi Noor memperlihatkan tingginya keragaman tanaman durian dan tanaman buah tropika lainnya. Dr. Aidi Noor memaparkan mengenai kegiatan identifikasi, karakterisasi dan pendaftaran sumberdaya gentik lokal yang telah dilaksanakan.

Menanggapi upaya yang telah dilakukan BPTP Kalimantan Selatan beserta jajaran Pemerintah Kabupaten Kota dan Provinsi Kalimantan Selatan ini, Dr. Mastur, Kepala Balai Besar Bioteknologi dan Sumberdaya Genetik Pertanian menyatakan bahwa upaya pendaftaran saja tidak cukup dalam pelestarian dan pemanfaatan sumberdaya genetik pertanian yang dimiliki Provinsi Kalimantan Selatan. Upaya pendaftaran akan memerlukan waktu yang panjang dan seolah tidak ada habis-habisnya. Disarankan untuk melakukan konservasi di dlam suatu kawasan tertentu, baik dalam bentuk kebun raya, taman konservasi maupun bentuk lainnya.

Saran ini tampaknya berbasis pada pelestarian secara ex-situ, dimana setiap sumberdaya genetik dikumpulkan dalam suatu kawasan (pool) di luar habitat aslinya dan dikelola oleh suatu lembaga. Sebenarnya terdapat metode konservasi lain yang lebih partisipatif dan merupakan pelestarian secara in-situ atau gabungan antara pelestarian in-situ dan ex-situ. Pelestarian secara in-situ dapat dilaksanakan oleh petani dalam suatu kawasan kebun (on-farm conservation). Pemilihan metode konservasi ini dapat dilakukan melalui analisi 4 sel (four cell analysis), dimana apabila tanaman dan rumah tangga yang memeliharanya relatif banyak (sel I, II dan III) maka pelestarianya dilaksanakan secara on-farm (in-situ). Sebaliknya bila tanaman sudah mulai langka karena jumlahnya dan rumah tangga yang memilikinya sedikit maka diperlukan pelestarian secara ex-situ, baik di Kebun Percobaan maupun di Kebun Raya.

Jenis tanaman (varietas) yang berada di sel III dianggap langka karena tanamannya sedikit mekipun rumah tangga yang memilikinya relatif banyak. Tanaman yang berada di sel IV dianggap terancam punah sehingga diperlukan penyelematan secara simultan, baik secara in-situ maupun ex-situ. Contoh pelestarian on-farm dapat dijumpai di kawasan Desa Marajai Kecamatan Halong Kabupaten Balangan yang kaya dengan jenis durian kalih (percampuran akibat kawin silang secara alami antara beberapa jenis durian), para penggemar durian menyebutnya durian hybrid. Hanif Wicaksono selaku pelestari tanaman buah tropis (custodian farmer) mendorong petani pemilik tanaman untuk memelihara dan melestarikan tanaman yang dimilikinya. Hanif kemudian mempromosikan kawasan ini sebagai kawasan ekowisata tanaman buah-buahan tropis sehingga setiap tahun ramai dikunjungi penggemar buah-buahan.

Untuk mempertahankan kelestarian tanaman yang berada di sel III ini selain dilakukan pelestarian secara on-farm juga diperlukan insentif berupa: 1) Perbanyakan dan pemuliaan secara partisipatif; 2) Meningkatkan nilai tambah, misalnya melalui pengolahan dan perluasan pemanfaatan, 3) Menghubungkan produknya dengan pasar (market chain); serta 4) Meningkatkan keadaran masyarakat bahwa tanaman ini sudah mulai langka sehingga perlu dilestarikan.

Langkah pelestarian lain yang dapat dilakukan, terutama untuk tanaman yang sudah mulai langka adalah melalui pendirian bank gen lapangan (field gene bank). Field gene bank ini diturunkan dari konsep bank gen hutan (forest gene bank), dimana suatu kawasan yang memilki keragaman yang tinggi dijadikan sebagai tempat untuk menempatkan (sink) tanaman dari kawasan lain (source) untuk memelihara dan menambah keragamannya.

Kawasan Kecamatan Bintang Ara atau Kecamatan Muara Uya di Kabupaten Tabalong yang kaya dengan jenis durian D. dulcis, D. kutejensis dan D. oxleyanus dapat dijadikan sebagai lokasi field gene bank ini. Kawasan ini dapat didorong untuk mempertahankan keragaman aneka durian non D. zibethinus yang dimilikinya, kemudian diperkaya dengan menmbahkan penanaman jenis durian non D. zibethinus dari daerah lainnya seperti Kabupaten Hulu Sungai Selatan, Hulu Sungai Tengah, Tanah Bumbu dan Balangan.

Penumbuhan field gene bank bisa juga untuk tujuan komersial, misalnya, kawasan Desa Biih di Kecamatan Karang Intan Kabupaten Banjar yang memiliki keragaman durian jenis Durio zibethinus yang sangat kaya dijadikan sebagai kawasan untuk pelestarian durian jenis D. zibethinus. Selain mempertahankan keragaman yang ada, ditambahkan juga jenis D. zibethinus dari kawasan lain untuk memperkaya keragamannya.

Desa Biih sebagai penghasil durian jenis D. zibethinus berkualitas akan lebih berkembang dengan pengayaan tanaman durian sejenis dari Kota Banjarbaru, Kab. Tanah Laut, Kab. Tapin, Kab. Kotabaru dan kawasan lainnya di Kalimantan Selatan. Hanya saja untuk pengayaan keragaman tanaman dari berbagai daerah ini diperlukan usaha yang sungguh-sunguh dari pemerintah daerah terkait, baik di kabupaten maupun di provinsi.

Kontributor Naskah: Ir. Achmad Rafieq Muchlison, M.Si. (BPTP Provinsi Kalimantan Selatan).