Indonesia Paparkan Program Aksi Pertanian Cerdas di Lahan Kering Mendukung Ketahanan Pangan

Berita

 26 total views,  1 views today.

Indonesia dalam hal ini Kementerian Pertanian menyampaikan pengalaman dalam pengelolaan pertanian di lahan kering (smart farming) guna mendukung ketahanan pangan pada Workshop on Water, Energy, Food Nexus secara virtual melalui Agricultural War Room (AWR), Senin (31/8/2020).

Perwakilan Kementerian Pertanian yakni Kepala Balai Penelitian Tanah (Balittanah) Dr. Ladiyani Retno Widowati, Kepala Balai Penelitian Agroklimat dan Hidrologi (Balitklimat) Dr. Harmanto, serta dari Balai Besar Litbang Bioteknologi dan Sumberdaya Genetik Pertanian (BB Biogen) Dr. Sustiprijatno, dari Balai Besar Litbang Pasca Panen Pertanian (BB Paspa) Dr. Hoerudin, dan Biro Kerjasama Luar Negeri Kementan Danang Budi Santoso.

Dalam paparannya, perwakilan Kementan menyampaikan bahwa salah satu upaya dalam sistem pertanian cerdas adalah pengelolaan air dengan menerapkan teknologi panen air di musim penghujan untuk selanjutnya dimanfaatkan melalui irigasi hemat air (precised water-use irrigation) dimusim kemarau. Hal ini penting untuk meningkatkan indeks pertanaman dan produksi pangan dan hortikultura dalam pemenuhan pangan nasional.

Inovasi teknologi lain yang mendukung adalah penggunaan benih unggul toleran kekeringan, pengelolaan hara tanaman, tanah salin, penggunaan drone pestisida nabati dan aplikasi pertanian cerdas lainnya, seperti irigasi tenaga surya yang lebih efisien dan ramah lingkungan. Disamping itu juga disampaikan penanganan pasca panen yang lebih baik agar tidak banyak hasil pertanian yang terbuang (food waste).

Lebih lanjut, dalam presentasinya Dr. Ladiyani menyampaikan program aksi adaptasi untuk pangan dan hortikultura diantaranya dengan menggunakan varietas yang adaptif terhadap perubahan iklim, padi tahan salin, tahan rendaman dan tahan kekeringan. Termasuk beberapa program aksi seperti BIMAS hinggu UPSUS, Kawasan Rumah Pangan Lestari (KRPL), Model Pengembangan Pertanian Pedesaan Melalui Inovasi (M-P3MI), dan budidaya hemat air, dengan mengurangi tinggi air genangan di sawah atau irigasi berselang.

Kemudian, Dr. Harmanto memberikan penjelasan bahwa sistem budidaya yang dilaksanakan di musim kemarau, terutama di akhir periode irigasi juga merupakan salah satu program yang mendukung pertanian adaptif di musim kemarau, sehingga saatnya musim penghujan kebutuhan pengairan terpenuhi.

Pertemuan dibuka oleh Prof. Suliman Ali Al-Khateeb pernyataan pembuka bahwa sejalan dengan tema internasional virtual workshop G20, keseimbangan pangan – air – energi (food water energy nexus), bahwa negara-negara peserta conference G-20 ini mempunyai peran yang besar dalam keberlangsungan system pangan-air-energi secara bijaksana. Diharapkan antar negara mempunyai networking yang erat sehingga keberlangsungan pengelolaan dan penyediaan pangan-air-energi dapat berkesinambungan dan lestari.

The International Virtual Workshop on Water, Energy, Food Nexus ini diikuti oleh 20 negara dan dibuka secara resmi oleh Chair International Virtual Workshop Prof. Suliman Ali Al-Khateeb. Pertemuan ini, seperti disebut Danang Budi Santoso, akan berlanjut pada rangkaian pertemuan Ministerial yang akan dilaksanakan pada 10-12 September 2020 mendatang dimana Presidensi Saudi termasuk yang intens dalam mengelola pertemuan G-20 tahun 2020 walau di tengah pandemic Covid-19.

Sumber: Balitbangtan