Mentan: Food Estate Akan Menjadi Sentra Ekonomi Baru bagi Kalteng

Berita

 173 total views,  1 views today.

Pundi-pundi rupiah akan mengalir kompetitif dari program Food Estate Kalimantan Tengah (Kalteng). Selain padi rawa, Food Estate diperkirakan akan menghasilkan beragam komoditi dengan nilai ekonomi menjanjikan hingga Rp 14 juta/bulan/orang. Produknya mulai dari hortikultira, peternakan, hingga perikanan. Dengan mengoptimalkan luas lahan 30 ribu hektare, integrasi beragam produk tersebut dipercaya membuat petani semakin sejahtera.

Perekonomian Kalteng juga dijamin semakin cerah seiring digulirkannya program Food Estate. Lokasinya berada di Belanti Siam, Pandih Batu, dan Pulang Pisau, Kalteng. Launching-nya dilakukan langsung oleh Presiden RI Joko Widodo (Jokowi). Memiliki luas potensial 164,6 ribu hektare, Food Estate mengembangkan pendekatan pertanian dari hulu-hilir. Untuk luas fungsional sekitar 85,45 ribu hektare, lalu 79,1 ribu hektare adalah luas fungsional.

“Dari awal program ini sangat bagus secara ekonomi. Ada banyak manfaat ekonomi yang didapat petani dan masyarakat dalam pengelolaan satu kawasan Food Estate. Semua potensi ini dikembangkan secara komprehensif dan terukur,” ungkap Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo (SYL), Kamis (8/10/2020).

Munculnya Food Estate sebagai penopang pangan nasional memang menjanjikan secara bisnis. Mengembangkan komoditi padi, program Food Estate mengalokasikan luas lahan 10 ribu hektare. Rencana tanam hingga akhir 2020 diperkirakan menghasilkan luas lahan 8.708 hektare.

Untuk zonasi Kapuas, rencana tanamnya mencapai 13.999 hektare dengan luas potensial 30 ribu hektare. Untuk komoditi padi akan mampu memberikan pendapatan Rp 2 juta/bulan/orang. Kapasitas produksinya dinaikkan menjadi 6 ton/hektare dengan durasi panen 3 kali setahun.

“Food Estate akan menjadi sentra ekonomi baru bagi Kalteng bahkan Indonesia. Aktivitas pertanian dilakukan komprehensif dengan basis korporasi. Komoditasnya sangat beragam dengan value ekonomi besar. Intinya, Food Estate akan terus mendongkrak perekonomian masyarakat selain lumbung pangan nasional,” terang Syahrul lagi.

Diintegrasikan dengan komoditas lain, Food Estate Kalteng mengembangkan budidaya Itik. Spesies yang dikembangkan ada 2, yaitu Itik Alabimaster-2 Agrinak dan Itik Mojomaster-1 Agrinak. Itik Alabimaster-1 memiliki kemampuan produksi telur 128 butir dengan berat 0,8 gram pada 6 bulan awal. Bila berumur setahun, produksinya menjadi 287 butir/ekor. Itik jenis ini mulai bertelur pada usia 177 hari.

Profil kompetitif juga dimiliki Itik Mojomaster-1 yang mulai bertelur pada usia 120 hari. Pada usia 6 bulan, Itik Mojomaster-1 menghasilkan telur 120 butir/ekor. Jumlahnya melonjak jadi 238 butir/ekor saat masuki usia 1 tahun. Berat telurnya mencapai 60,2 gram/butir. Saat berusia 1 tahun, itik rata-rata dijual dengan harga Rp 90 ribu/ekor. Itik dijual untuk dikonsumsi dagingnya.

Keuntungan ekonomi semakin besar karena harga telur utik mencapai Rp 2 ribu/butir. Untuk berat 1 Kg terdiri dari sekitar 20 butir telur itik.

“Integrasi itik dan komoditi lain dalam Food Estate tentu menguntungkan. Ada banyak sekali lini pendapatan dengan nilai potensial yang dimiliki oleh petani. Dengan profil positif seperti ini, daerah lain di Indonesia bisa mencontohnya,” tegas Syahrul lagi.

Selain Itik, Food Estate juga mengembangkan produk perikanan. Jenis ikan yang dikembangkan adalah lele (Clasias Gariepinus) dan ikan Kapar Belmeah (Belontia Haseti). Ikan-ikan ini dipelihara pada karamba dengan ukuran 3x3x1,5 meter. Total ada 168 karamba yang sedang dikembangkan di irigasi sekunder. Dalam 1 karamba menghasilkan 500 ekor lele besar.

Kompetitif dikembangkan, budidaya lele memberikan banyak manfaat. Nilai ekonominya pun dihasilkan dari berat panen lele sekitar 200 gram/ekor. Harga jualnya mencapai Rp 20 ribu/kg dengan siklus panen 3 kali dalam setahun. Selain ekonomi, lele juga memiliki kandungan gizi yang bagus. Ada energi 240 Kkal, 17,57 gram protein, lemak 14,53 gram, hingga 13,6 gram asam lemak Omega 3.

Sumber: liputan6.com