Kepala Balitbangtan Dorong Pemanfaatan Kedelai, Porang, dan Bawang Putih

Berita

 149 total views,  1 views today.

Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan), Dr. Fadjry Djufry mendorong agar jajarannya serius dalam mengembangkan komoditas kedelai.

Menurutnya pengembangan kedelai harus segera dilakukan menyusul rencana Presiden Joko Widodo dalam menyiapkan satu juta hektar lahan untuk produksi kedelai.

“Tolong dibantu terkait kedelai ini, terutama dalam menyiapkan benih. Saya juga akan minta kepada unit lain terkait rekomendasi pupuk untuk kedelai,” kata Fadjry saat menghadiri Rapat Koordinasi di Balai Besar Litbang Bioteknologi dan Sumber Daya Genetik Pertanian (BB Biogen) Bogor, Rabu (13/1/2021).

“Presiden minta satu juta hektar, kita bisa manfaatkan lahan-lahan perkebunan, areal tanam baru atau di lahan rawa yang potensial dan belum dimanfaatkan,” tambahnya.

Adapun kedelai yang potensial dikembangkan adalah varietas unggul baru (VUB) biosoy. Kedelai tersebut memiliki karakter biji besar menyerupai kedelai impor serta memiliki produktivitas mencapai 3,5 ton per hektar.

Hingga kini perbanyakan kedelai biosoy masih terus dilakukan dengan melibatkan Balai Pengkajian Teknologi Pertanian, Dinas Pertanian, serta penangkar di berbagai provinsi di Indonesia.

Kepala BB Biogen, Mastur PhD menjelaskan, benih kedelai yang tersedia saat ini adalah 30 ton. Benih tersebut akan ditanam bulan Januari dan Juni 2021, dengan target hasil pada September mendatang adalah 27.000 ton benih.

“Dengan hasil segitu insyaAllah keinginan persiden bisa tercapai,” ujar Mastur.

Selain kedelai, Fadjry juga meminta agar jajarannya mengembangkan komoditas porang, khusunya dalam memerbanyak benih secara kultur jaringan.

“Kita memiliki banyak laboratorium, itu bisa dimanfaatkan. Dengan memanfaatkan laboratorium yang ada, kita menjadi lebih mudah dalam memetakan berapa kebutuhan serta produksi yang bisa kita lakukan,” kata Fadjry.

“Terakhir adalah bawang putih. Saya berharap para peneliti kita mampu memanfaatkan teknologinya agar Indonesia tidak ketergantungan dengan impor,” pungkasnya. (AB)