Teknologi Kultur Jaringan Porang Mendukung Program GRATIEKS

Berita

 208 total views,  3 views today.

Porang menjadi komoditas ekspor yang mendadak booming saat ini. Permintaan bahan baku industri yang tinggi menyebabkan banyak petani yang berminat membudidayakan porang karena nilai usaha taninya cukup menggiurkan. Menteri Pertanian Dr. Syahrul Yasin Limpo menyampaikan bahwa porang telah ditetapkan sebagai komoditas yang masuk dalam program gerakan tiga kali lipat ekspor (GRATIEKS).

“Ekspor porang pada tahun 2020 sebanyak 32.000 ton dengan nilai ekspor mencapai Rp 1,42 triliun ke Jepang, Tiongkok, Vietnam, Australia dan lain sebagainya. Ada peningkatan sebesar 160% dari tahun 2019,” jelasnya dalam talkshow strategi pengembangan porang sebagai komoditas ‘mahkota’ di Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan Bogor, Kamis (25/03/2021).

Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan), Dr. Fadjri Djufri menambahkan bahwa saat ini pemerintah telah menyiapkan teknologi modern untuk mengakomodasi produksi komoditas porang dari hulu sampai hilir, salah satunya dengan teknologi kultur jaringan.

Salah satu narasumber pada talkshow, Peneliti Balitbangtan Dr. Ika Roostika Tambunan menjelaskan, teknik kultur jaringan menjadi pilihan yang tepat untuk penyediaan benih porang saat ini. Kultur jaringan sendiri adalah teknik mengisolasi eksplan atau bagian tanaman berupa protoplas, sel, jaringan, dan organ secara aseptis dan menumbuhkannya di dalam botol hingga terbentuk planlet (tanaman utuh yg kecil).

Keunggulan perbanyakan tanaman secara kultur jaringan adalah mampu menghasilkan benih yang murni secara masal, dalam waktu yang cepat, bebas hama dan penyakit, dengan karakter sesuai induknya, seragam dan tidak tergantung pada musim serta mudah didistribusikan antar daerah dan antar pulau.

Tahapan penting dalam perbanyakan secara kultur jaringan adalah pemilihan tanaman induk yang unggul supaya diperoleh anakan yang unggul pula; sterilisasi bahan tanam hingga terbebas dari mikroba namun jaringan tanaman masih bertahan hidup; subkultur (pemindahan eksplan/biakan ke media baru) untuk memacu multiplikasi tunas atau induksi akar; aklimatisasi hingga benih hasil kultur jaringan mampu beradaptasi dengan kondisi di luar botol atau di lapang.

“Masyarakat awam memang sering menyebut kultur jaringan dengan kloning. Istilah yang lebih tepat adalah clonal propagation atau perbanyakan klonal,” jelas Ika.

“Bahan tanam yang dapat dijadikan sebagai eksplan adalah umbi, katak, mata tunas, daun bahkan tangkai daun porang karena terdiri atas sel-sel somatik yang akan beregenerasi menjadi tanaman dengan karakter sesuai induknya. Berbeda dengan perbanyakan menggunakan biji yang akan menghasilkan keturunan karakter yang beragam,” tambahnya.

Sebagai bahan rekomendasi kepada Menteri Pertanian, peluang riset kedepan adalah pemuliaan porang untuk peningkatan daya hasil dan kandungan glukomanan agar petani lebih sejahtera dan industri lebih efisien dalam pengolahannya. (IR/AB)