Kolaborasi Balitbangtan dan Bupati Luwu Utara untuk Kembangkan Kakao

Berita

 64 total views,  2 views today.

Kakao merupakan komoditas perkebunan yang memberi kontribusi pada perekonomian Indonesia. Kementerian Pertanian melalui Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) terus mengembangkan kakao dengan menggandeng berbagai pihak.

Berdasarkan data Statistik Kakao Indonesia, produksi kakao di Indonesia tahun 2019 mencapai sekitar 774 ribu ton. Di Luwu Utara, areal tanaman kakao pada tahun 2020 sebesar 40.814 hektare dengan produktivitas 1.005 kg/ha per tahun dan melibatkan 29.481 petani.

Komoditas kakao mempunyai potensi yang besar namun masih menghadapi beberapa tantangan. Antara lain pengembangan kakao dari hulu ke hilir, adopsi teknologi kakao oleh petani, permasalahan lingkungan akibat dampak perubahan iklim, serangan hama dan penyakit, permasalahan lahan, dan tantangan lainnya.

Berbagai tantangan tersebut dapat dihadapi dengan inovasi teknologi dan sinergi dengan berbagai pihak. Salah satu upaya yang dilakukan Balitbangtan adalah melakukan kerja sama yang ditandai dengan penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) bersama Pemerintah Kabupaten Luwu Utara dan PT Mars Symbioscience Indonesia yang digelar secara hybrid pada Minggu (8/8/2021).

“Semoga kerja sama penelitian ini segera ditindaklanjuti untuk penelitian dan pengembangan pertanian khususnya komoditas kakao di Luwu Utara,” ucap Sekretaris Balitbangtan Dr. Haris Syahbuddin dalam acara penandatanganan MoU tersebut.

Kesepakatan bersama Balitbangtan dengan pemerintah daerah dan swasta tersebut merupakan komitmen untuk melakukan perencanaan, penelitian bersama, pengolahan dan budi daya kakao berbasis riset, diseminasi dan implementasi inovasi teknologi kakao, dan berbagai kegiatan riset lainnya.

“Ini disadari betul bahwa untuk meningkatkan produktivitas dan nilai tambah kakao tidak bisa jalan sendiri, bisa melalui riset kolaborasi dengan pemerintah daerah maupun sektor swasta untuk menghasilkan inovasi teknologi mengenai pengembangan benih unggul, pengembangan pascapanen kakao, maupun pendampingan teknologi bagi petani,” kata Kepala Balitbangtan Dr. Fadjry Djufry.

Selain itu, Balitbangtan juga bersama-sama dengan berbagai stakeholder dari pemerintah pusat, pemerintah daerah, pihak swasta, peneliti, hingga petani membahas upaya pengembangan dan peningkatan nilai tambah kakao di Indonesia khususnya di Luwu Utara, Sulawesi Selatan.

“Ini butuh dukungan dari mitra bagaimana kemudian kita mengedukasi masyarakat dalam mengolah kakao. Kita berharap ada alih pengetahuan dan teknologi terhadap petani kita. Kedua, kita berharap nilai tambahnya dapat dinikmati oleh petani,” ungkap Bupati Luwu Utara Indah Putri Indriani.

Kolaborasi dari berbagai pihak tersebut akan terus dikuatkan. Dengan demikian, cita-cita pembangunan pertanian berkelanjutan oleh Kementerian Pertanian untuk mendukung perekonomian dan kesejahteraan masyarakat dapat terwujud.

Seperti diketahui, Indonesia termasuk ke dalam negara produsen biji kakao terbesar di dunia. Bahan baku produk makanan dan minuman ini telah banyak diekspor di berbagai negara seperti Malaysia, Amerika Serikat, India, China, dan Belanda. Tercatat, di tahun 2019 produk kakao olahan diekspor dengan volume 285.786 ton untuk pasar dunia. (Balitbangtan)