Agar Padi Kebal Penyakit Kresek

Ditulis dalam Bioteknologi Pertanian | Oleh | 21/02/2011

> PDF


Padi terserang penyakit kresek atau BLB atau hawar daun bakteri.

IRRI Knowledge Bank

Harga bahan pangan terus melonjak akibat makin minimnya suplai. Perubahan iklim menyumbang peran. Terutama karena penyakit padi makin mudah menyebar sehingga mengurangi produksi.

Bacterial leaf blight (BLB) atau yang dikenal oleh para petani sebagai penyakit kresek merupakan salah satu penyakit padi yang paling merugikan. Akibat penyakit ini, produksi beras tiap tahun bisa mengalami penurunan sebesar 20% hingga 25%.

Berdasarkan data dari Direktorat Jenderal Tanaman Pangan, pada periode 1987-1990 misalnya, BLB telah menyerang 76.740 hektare ladang di Indonesia. Tiga tahun berselang, jumlahnya meningkat menjadi 88.552 hektare. Pada 2009, angkanya masih cenderung tinggi.

“¬Å“Sekitar 85 ribu hektare di seluruh Indonesia,”¬  ujar Fatimah, peneliti dari Balai Besar Penelitian dan Pegembangan Bioteknologi dan Sumberdaya Genetik Pertanian (BB Biogen), Bogor.

Penyakit yang disebabkan bakteri Xanthmonas oryzae ini menyerang tanaman padi di lahan tropis. BLB menyebabkan daun padi menjadi kuning dan kering.

Jika BLB menyerang padi yang masih kecil (tingkat bibit), sangat mungkin padi tak bisa dipanen. Namun, jika BLB menyerang pada pertengahan musim tanam (tingkat dewasa), padi masih bisa dipanen walau kualitas dan kuantitasnya menurun drastis.

“¬Å“Bulir padi menjadi seperti remah-remah saja. Beberapa bahkan bisa kosong sama sekali,”¬  tambah Fatimah.

Perubahan cuaca yang tak menentu dan hujan sepanjang tahun yang melanda akhir-akhir ini turut memengaruhi kemungkinan penyakit ini meluas.

Pasalnya, BLB tumbuh subur dalam kondisi yang lembap, hujan, pupuk yang banyak, cuaca hangat, dan genangan air.

Berbeda dengan penyakit blast (juga pada padi) yang cenderung menyerang sebagian kecil area tapi bersifat mematikan, BLB menyerang area pertanian secara luas, namun tidak terlalu mematikan.

Selain di Indonesia, penyakit ini juga menyerang pertanian di Australia, Amerika, dan negara-negara lain di Amerika Latin serta Afrika. Penurunan produksi padi biasanya berkisar 20% hingga 30%. Namun, di beberapa negara Asia kerugiannya bisa mencapai 50%.
Identifikasi gen Persoalan ini menjadi perhatian besar bagi Fatimah. BLB menjadi faktor penyebab terbesar kedua rusaknya tanaman padi setelah hama (wereng dan tikus yang masih dominan).

Dengan hibah penelitian dari Indonesia Toray Science Foundation (ITSF), kemudian gen Xa7, sebuah gen yang kebal terhadap penyakit BLB berhasil diidenfitikasi.

Fatimah menggunakan metode sequence tagged site markers (penanda berdasarkan frekuensi sequence pada genom). Dengan metode ini, ia meneliti 36 jenis padi lokal Indonesia dan mencari gen Xa7 pada kromo som 6.

Gen Xa7 dapat diidentifikasi lewat dua sifat. Pertama merupakan gen yang memiliki sifat broad spectrum (memiliki ketahanan terhadap penyakit).

Kedua, bersifat durable (mampu beradaptasi dengan kondisi cuaca). Gen ini terbukti memiliki kekebalan terhadap bakteri Xanthmonas oryzae. “¬Å“Dari 36 jenis itu, saya menemukan gen Xa7 pada jenis padi pelopor,”¬  ujarnya.

Namun sayangnya, jenis padi pelopor tak dijual bebas di kalangan petani.

Fatimah menyebutkan hanya beberapa petani yang menanamnya. Itu pun tidak ditanam secara luas. Berkisar dua hingga tiga petak saja.

“¬Å“Tidak populer karena banyak faktor. Bisa saja jenis ini walaupun kebal terhadap BLB, tapi tak bisa menghasilkan padi yang berkualitas atau produksinya sedikit,”¬  jelasnya.

Walau telah berhasil diidentifikasi, langkah penerapannya masih terbilang panjang. Untuk persilangan saja, dibutuhkan waktu 3-4 tahun untuk menghasilkan tanaman induk (tetua).

Dari situ, barulah bisa dilakukan proses untuk menciptakan tanaman transgenik (tanaman yang telah disisipi atau memiliki gen asing dari spesies tanaman yang berbeda).

Setelah selesai, bibit padi masih harus diteliti secara lebih lanjut terutama mengenai faktor keamanan dan etika bio.

Total proses tersebut, Fatimah menaksir bisa memakan waktu hingga dua puluh tahun lamanya. “¬Å“Belum lagi, banyak anggapan negatif tentang tanaman transgenik. Itu pun harus dipikirkan lagi,”¬  ujar Fatimah.
(M-4) christine@ mediaindonesia.com

[Sumber: Media Indonesia 16 Feb 2011]

Badan Litbang Bioteknologi & Sumberdaya Genetik Pertanian, Kampus Penelitian Pertanian, Cimanggu, Kota Bogor

Related posts:

Indonesia Akan Termasuk 4 Besar Pengimpor Beras
Genomika Mengisyaratkan Penanda Molekuler untuk Kakao Mulia Produktif
Status Global Komersialisasi Tanaman Biotek 2012
Ayam Transgenik Alami Bertelur Biru

Label: , , , ,

comments powered by Disqus