Buku


Notice: Undefined index: year in /var/vhosts/biogen/public/wp/wp-content/plugins/papercite/bib2tpl/bibtex_converter.php on line 311

Notice: Undefined index: year in /var/vhosts/biogen/public/wp/wp-content/plugins/papercite/bib2tpl/bibtex_converter.php on line 311
cov_buku_ntsys_icoBerikut ini adalah daftar publikasi BB Biogen yang telah diterbitkan berupa buku.  
  1. Sukmadjaja, Deden and Ika Mariska. Perbanyakan Bibit Jati Melalui Kultur Jaringan. Edited by Mulya, Karden. Balai Penelitian Bioteknologi dan Sumberdaya Genetik Pertanian. .
    [BibTeX] [Abstract] [PDF: Perbanyakan Bibit Jati Melalui Kultur Jaringan ]
    Pemanfaatan teknologi kultur jaringan untuk tujuan perbanyakan bibit telah diaplikasikan pada berbagai tanaman tahunan seperti jati, eukaliptus, akasia, dan lain-lain. Beberapa kelebihan dari penggunaan teknik kultur jaringan dibandingkan dengan cara konvensional adalah (1) faktor perbanyakan tinggi, (2) tidak tergantung pada musim karena lingkungan tumbuh in vitro terkendali, (3) bahan tanaman yang digunakan sedikit sehingga tidak merusak pohon induk, (4) tanaman yang dihasilkan bebas dari penyakit meskipun dari induk yang mengandung patogen internal, (5) tidak membutuhkan tempat yang sangat luas untuk menghasilkan tanaman dalam jumlah banyak. Sedangkan masalah yang banyak dihadapi dalam mengaplikasikan teknik kultur jaringan, khususnya di Indonesia adalah modal investasi awal yang cukup besar dan sumber daya manusia yang menguasai dan terampil dalam bidang kultur jaringan tanaman masih terbatas. Masalah lain yang sering muncul adalah tanaman hasil kultur jaringan sering berbeda dengan tanaman induknya atau mengalami mutasi. Hal ini dapat terjadi karena penggunaan metode perbanyakan yang salah, seperti frekuensi subkultur yang terlalu tinggi, perbanyakan melalui organogenesis yang tidak langsung (melalui fase kalus) atau konsentrasi zat pengatur tumbuh yang digunakan terlalu tinggi (Mariska et al., 1992).
    @book{DedenSukmadjaja,
    author = {Deden Sukmadjaja and Ika Mariska },
    title = {{Perbanyakan Bibit Jati Melalui Kultur Jaringan}},
    editor = {Karden Mulya},
    publisher = {Balai Penelitian Bioteknologi dan Sumberdaya Genetik Pertanian},
    abstract = {Pemanfaatan teknologi kultur jaringan untuk tujuan perbanyakan bibit telah diaplikasikan pada berbagai tanaman tahunan seperti jati, eukaliptus, akasia, dan lain-lain. Beberapa kelebihan dari penggunaan teknik kultur jaringan dibandingkan dengan cara konvensional adalah (1) faktor perbanyakan tinggi, (2) tidak tergantung pada musim karena lingkungan tumbuh in vitro terkendali, (3) bahan tanaman yang digunakan sedikit sehingga tidak merusak pohon induk, (4) tanaman yang dihasilkan bebas dari penyakit meskipun dari induk yang mengandung patogen internal, (5) tidak membutuhkan tempat yang sangat luas untuk menghasilkan tanaman dalam jumlah banyak. Sedangkan masalah yang banyak dihadapi dalam mengaplikasikan teknik kultur jaringan, khususnya di Indonesia adalah modal investasi awal yang cukup besar dan sumber daya manusia yang menguasai dan terampil dalam bidang kultur jaringan tanaman masih terbatas. Masalah lain yang sering muncul adalah tanaman hasil kultur jaringan sering berbeda dengan tanaman induknya atau mengalami mutasi. Hal ini dapat terjadi karena penggunaan metode perbanyakan yang salah, seperti frekuensi subkultur yang terlalu tinggi, perbanyakan melalui organogenesis yang tidak langsung (melalui fase kalus) atau konsentrasi zat pengatur tumbuh yang digunakan terlalu tinggi (Mariska et al., 1992).},
    isbn = {979-95627-8-3},
    file = {http://biogen.litbang.pertanian.go.id/terbitan/pdf/Buku_ Jati.pdf}
    }
  2. Mariska, Ika and Deden Sukmadjaja. Perbanyakan Bibit Abaka Melalui Kultur Jaringan. Edited by Mulya, Karden. Balai Penelitian Bioteknologi dan Sumberdaya Genetik Pertanian. .
    [BibTeX] [Abstract] [PDF: Perbanyakan Bibit Abaka Melalui Kultur Jaringan ]
    Tanaman abaka (Musa textilis Nee.) merupakan tanaman sebangsa pisang yang termasuk dalam keluarga Musaceae. Asal jenis pisang ini ada yang mengatakan dari Filipina tetapi ada juga yang mengatakan dari kepulauan Sangir dan Talaud. Namanya berbeda-beda tergantung pada daerah di mana abaka ditanam. Orang Talaud menamakan sebagai Walzi, orang Sangir mengatakan Balri atau Hote, di Minahasa disebut Kofo Sangi atau Pisang Benang, Pisang Manila, dan di Jawa Barat disebut Cau Manila (Sudjindro, 1999). Menurut Holtius dalam Hall dan Koppel (1950) tanaman abaka sering disebut tanaman kofo. Nilai ekonomi tanaman abaka terdapat pada batangnya yang mengan-dung serat untuk bahan baku industri tekstil dan kertas berharga. Seratnya mempunyai sifat fisik yang kuat, tahan lembab dan air asin sehingga baik untuk digunakan sebagai bahan baku kertas berkualitas tinggi yang tahan simpan (seperti uang, kertas dokumen, kertas cek), kertas filter, pembungkus teh celup, bahan pakaian, pembungkus kabel dalam laut serta tali temali lainnya (Triyanto et al., 1982). Karena seratnya yang multiguna dan prospeknya yang cukup baik, tanaman abaka banyak mendapat perhatian dari berbagai kalangan masyarakat baik swasta, BUMN, koperasi maupun petani. Menurut Sastrosupadi (1999) satu-satunya perkebunan abaka yang masih ada saat ini di daerah Banyuwangi dengan luas kira-kira 250 ha. Namun saat ini dengan semakin disadarinya potensi tanaman abaka, maka petani dan pengusaha swasta mulai menanam dan akan mengembangkan secara luas.
    @book{IkaMariska,
    author = {Ika Mariska and Deden Sukmadjaja},
    title = {{Perbanyakan Bibit Abaka Melalui Kultur Jaringan}},
    editor = {Karden Mulya},
    publisher = {Balai Penelitian Bioteknologi dan Sumberdaya Genetik Pertanian},
    abstract = {Tanaman abaka (Musa textilis Nee.) merupakan tanaman sebangsa pisang yang termasuk dalam keluarga Musaceae. Asal jenis pisang ini ada yang mengatakan dari Filipina tetapi ada juga yang mengatakan dari kepulauan Sangir dan Talaud. Namanya berbeda-beda tergantung pada daerah di mana abaka ditanam. Orang Talaud menamakan sebagai Walzi, orang Sangir mengatakan Balri atau Hote, di Minahasa disebut Kofo Sangi atau Pisang Benang, Pisang Manila, dan di Jawa Barat disebut Cau Manila (Sudjindro, 1999). Menurut Holtius dalam Hall dan Koppel (1950) tanaman abaka sering disebut tanaman kofo.
    Nilai ekonomi tanaman abaka terdapat pada batangnya yang mengan-dung serat untuk bahan baku industri tekstil dan kertas berharga. Seratnya mempunyai sifat fisik yang kuat, tahan lembab dan air asin sehingga baik untuk digunakan sebagai bahan baku kertas berkualitas tinggi yang tahan simpan (seperti uang, kertas dokumen, kertas cek), kertas filter, pembungkus teh celup, bahan pakaian, pembungkus kabel dalam laut serta tali temali lainnya (Triyanto et al., 1982). Karena seratnya yang multiguna dan prospeknya yang cukup baik, tanaman abaka banyak mendapat perhatian dari berbagai kalangan masyarakat baik swasta, BUMN, koperasi maupun petani.
    Menurut Sastrosupadi (1999) satu-satunya perkebunan abaka yang masih ada saat ini di daerah Banyuwangi dengan luas kira-kira 250 ha. Namun saat ini dengan semakin disadarinya potensi tanaman abaka, maka petani dan pengusaha swasta mulai menanam dan akan mengembangkan secara luas.},
    isbn = {979-95627-9-1},
    file = {http://biogen.litbang.pertanian.go.id/terbitan/pdf/Buku_Abaka.pdf}
    }